Malang Raya
Road Show Film 'Menolak Diam' di Kantor SURYA Malang
ANTI KORUPSI - Banyak sekolah di Malang memiliki website namun sekadar informasi kondisi sekolah, bukan keterbukaan keuangan.
Penulis: Benni Indo | Editor: yuli
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Transparency International bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Malang Corruption Watch (MCW) melakukan road show sebuah film berjudul Menolak Diam ke kantor redaksi Harian SURYA Biro Malang, Rabu (28/2/2018).
Kepala Biro Harian SURYA Biro Malang Hesti Kristanti menyambut langsung Sekjen Transparency International Indonesia Dadang Trisasongko, Nanang Farid Syam dari KPK.
Dadang mengatakan, film menjadi media yang efektif untuk menyampaikan informasi sekaligus mendidik warga praktik korupsi bisa dicegah. Dalam film yang ia kenalkan itu, Dadang mengatakan film tersebut berdasar kisah nyata yang terjadi di SMA 3 Surakarta.
Para pelajar di sana membongkar skandal korupsi yang dilakukan oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah serta guru.
Saat itu wali murid disuruh iuran untuk membeli kebutuhan fasilitas sekolah. Namun fasilitas yang dimaksud tidak pernah ada wujudnya.
"Peristiwa terjadi di SMA 3 Surakarta. Ada ungutan uang wisuda dan multimedia sudah dipungut tapi tidak pernah ada barangnya," ujarnya, Rabu (28/2/2018).
Dadang melanjutkan, melalui kisah pada film itu, ia menjelaskan korupsi ada di sekitar kita. Oleh sebab itu, masyarakat bisa menghadapi korupsi jika bergerak bersama. Pasalnya, siswa SMA 3 Surakarta bisa membongkar skandal korupsi di sekolahnya karena bergerak bersama.
Sementara itu, Nanang Farid Syam perwakilan dari KPK mengapresiasi lahirnya film Menolak Diam itu. Pasalnya, film tersebut sejalan dengan kinerja dan harapan KPK dalam rangka memberantas korupsi.
"KPK mengapresisi karena ini juga kerja KPK. Kami tidak bisa bekerja sendiri," ujarnya.
Masih terdapat sejumlah praktik korupsi di lembaga pendidikan di Indonesia. Selain itu, laporan-laporan masyarakat ke pemerintah cenderung mendapat respon yang lambat, bahkan tidak ditanggapi sama sekali.
Maka Nanang tidak merasa heran jika kemudian masyarakat lapornya ke LSM seperti MCW atau ke sosial media.
"Di sana responsnya cepar," imbuhnya.
Nanang melihat film Menolak Diam mengajarkan cara sekaligus memberikan kepada masyarakat ketika menjumpai praktik korupsi.
Sementara itu, aktivis anti korupsi Zainudin mengatakan transparansi sekolah di Malang masih belum maksimal.
Sekolah di Malang banyak yang memiliki website, namun isinya hanya sekadar informasi kondisi sekolah, bukan pada keterbukaan keuangan.
"Jadi isinya ya seperti masjidnya yang bagus, halaman parkirnya. Belum pada RAPBS," paparnya.
Ia juga mengatakan pungutan di Kota Malang tidak melalui kepala sekolah saat ini, melainkan melalui paguyuban yang anggotanya adalah para wali murid.
Film Menolak Diam berdurasi 40 menit. Film ini sudah diputar di beberapa kota di Indonesia seperti Makassar, Jakarta, Padang, Surabaya dan Malang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/ara-aktivis-anti-korupsi_20180228_201310.jpg)