Breaking News:

Tulungagung

Sengketa di Gunung Bolo, Pengelola Makam Tionghoa Menggugat Rp 2,5 Miliar

Rukun Sejati menggugat Pemerintah Desa Bolorejo dan Pokdarwis Gunung Bolo, serta empat pihak lainnya senilai Rp 2,5 miliar.

david yohanes
Puluhan orang menggelar aksi di Gunung Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Minggu (22/4/2018). Aksi ini sebagai bentuk protes warga, atas gugatan perdata yang dilayangkan Rukun Sejati, pihak yang mengelola pemakaman Tionghoa di Gunung Bolo. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Puluhan orang menggelar aksi keprihatinan dan istighatsah di Gunung Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, Minggu (22/4/2018).

Aksi ini sebagai bentuk protes warga, atas gugatan perdata yang dilayangkan Rukun Sejati, pihak yang mengelola pemakaman Tionghoa di Gunung Bolo.

Aksi ini diikuti sekitar 80 warga Desa Bolorejo. Di antara mereka ikut serta KH M Hadi Mahfudz, Ketua MUI Tulungagung yang juga punya Pondok Pesantren di Bolorejo. Menurut Gus Hadi, panggilan akrabnya, Gunung Bolo adalah tempat yang berpotensi dan harus digunakan untuk kemaslahatan umat.

“Perjuangan warga harus diniatkan untuk diwariskan ke anak cucu. Dengan demikian perjuangan ini akan dicatat sebagai pahala di akhirat,” ujar Gus Hadi.

Rukun Sejati menggugat Pemerintah Desa Bolorejo dan Pokdarwis Gunung Bolo, serta empat pihak lainnya senilai Rp 2,5 miliar.

Rukmi mengklaim, Gunung Bolo berada dalam penguasaan mereka, dengan bukti tiga eigondom sejak era pemerintahan Hindi Belanda.

Sebelumnya Pokdarwis Gunung Bolo mengubah gunung ini menjadi lokasi wisata. Pengunjung pun sudah dipungut tiket masuk. Namun keberadaan aktivitas wisata ini kemudian dipermasalahkan pengurus Rukun Sejati.

Kuasa hukum Pemerintah Desa Bolorejo, Fayakun SH mengatakan, Pemerintah Desa Bolorejo tidak pernah membentuk Pokdarwis. Bahkan ketika mengetahui ada pengelolaan wisata yang dipungut biaya, pemerintah desa justru menghentikannya.

“Bisa diperiksa, tidak ada Peraturan Desa (perdes) yang mengatur soal wisata Gunung Bolo,” tegas Fayakun.

Fayakun justru khawatir, gugatan Rukun Sejati ini justru akan memicu konflik berkepanjangan dengan warga sekitar. Padahal Rukun Sejati mempunyai kepentingan jangka panjang di Gunung Bolo. Selain masalah lokasi pemakaman, di sini juga ada krematorium.

“Yang memungut tiket masuk untuk wisata ke Gunung Bolo adalah warga. Pemerintah desa tidak pernah membuat pengadaan tempat wisata di Gunung Bolo,” tambah Fayakun.

Sementara kuasa hukum Rukun Sejati, Galih Rama SH mengatakan, konflik ini sudah berlangsung lama. Bahkan menurutnya, setiap kali ganti Kepala Desa Bolorejo, konflik ini muncul. Karena itu kini pihaknya menggugat, agar mendapat kejelasan status tanah.

Terkait nilai gugatan Rp 2,5 miliar, sebenarnya formalitas gugatan. “Kenapa harus dipermasalahkan? Yang kita permasalahkan kan status kepemilikan tanahnya,” ujar Galih.

Terkait aktivitas wisata di area makam Tionghoa ini sebenarnya tidak mengganggu. Namun yang disayangkan ada perusakan makam. Sejumlah makam dikepras, tempat tabur bunga juga dicor.

Pengurus Rukun Sejati mendapat komplain dari pemilik makam. Karena itu gugatan ini akan dijadikan pintu masuk untuk mendapat status yang lebih jelas. Dengan demikian ke depan tidak ada lagi konflik antara pemilik makam dengan warga sekitar. 

Penulis: David Yohanes
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved