Breaking News:

Malang Raya

Rekam Jejak di Media Sosial Jadi Pertimbangan Buat Pelamar Kerja

Ia membawakan kuliah tamu 'Cyber Crime and Security Issue'. Kata dia, kesantunan berbahasa juga bagian dari karakter seseorang.

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Teguh Arifiyadi SH MH CEH CHFU, Kasubdit Penyidikan dan Penindakan Kementrian Kominfo saat kuliah tamu dengan mahasiswa Vokasi Universitas Brawijaya Malang di Guest House UB, Selasa (15/5/2018). 

Untuk itu harus punya spesifikasi karena tidak bisa ahli di semua bidang.

Ia menceritakan dirinya dari latar belakang hukum sejak awal fokus ke cyber crime. Namun saat membuat skripsi tak ada satupun dosen yang mau jadi pembimbingnya.

Sebab proposalnya selalu ditolak. "Tahun 2000 saya bikin proposal skripsi tentang cyber crime. Saya yakin saat itu perkembangan akan kesana," kata dia.

Pada 2000, perkembangan internet belum pesat. Masih ada 2 juta pengguna. Namun ia memiliki pikiran visioner akan adanya cyber crime yang kemudian berkembang saat ini.

Pembimbing skripsinya didapat dari ketua Program S3. Tapi usai lulus juga tidak mudah mencari pekerjaan dengan spesifikasi cyber crime.

Puluhan lamarannya ditolak. Sampai akhirnya ia bekerja di Kominfo yang membutuhkan pekerja yang tahu hukum dan IT. Di usia 34 tahun, ia sudah kasubdit.

Anak buahnya rata-rata berusia dibawah 25 tahun dengan jumlah 100 orang. Dari 11.600 pelamar, yang diterima hanya 53 orang.

"Saya tidak melihat asal kampusnya. Namun kualifikasinya adalah yang harus paham media sosial," kata dia.

Sehingga tesnya juga tentang medsos. Misalkan hastag pertama kali muncul dimana, berapa karakter di Twitter dll. 100 pertanyaan diberikan terkait medsos.

"Pertanyaannya simple, mungkin malah gak sempat dipikirkan. Kalau gak punya passion di medsos agak sulit menjawab," kata dia.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved