Kota Batu

Mengapa Ketel Uap untuk Produksi Tahu di Kota Batu Bisa Meledak? Ternyata Inilah Penyebabnya

Ketel uap tahu ini memang dibuat sendiri oleh Pak Didik. Sebelumya ia adalah karyawan di sebuah pabrik tahu. Ia baru 4 bulan usaha sendiri.

Penulis: Benni Indo | Editor: yuli
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
KORBAN TEWAS - Petugas medis mengevakuasi korban tewas dalam ledakan rumah yang dipakai untuk usaha home industry tahu di Jalan Wukir, Kelurahan Temas, Kota Batu, Jumat (18/5/2018). Ledakan yang diduga berasal dari ketel uap pembuatan tahu ini mengakibatkan pemilik home industri tahu, Didik (41) tewas dan empat orang luka-luka. 

SURYAMALANG.COM, BATU - Rumah almarhum Didik Tri Widariyanto (42) masih ramai dikunjungi warga dan pelayat, Sabtu (19/5/2018). Sementara garis polisi di rumah yang meledak akibat ketel uap itu sudah dilepas.

Suparman, ayah Didik mengatakan garis polisi sudah dilepas pada Jumat (18/5/2018). Didik juga sudah dimakamkan sekitar pukul 16.30 wib. Selain itu, Eni, istri Didik juga sudah kembali.

"Kemarin sudah dimakamkan. Garis polisis juga sudah dilepas. Sedangkan Eni sudah pulang kemarin. Sekarang ada di dalam" kata Suparman, Sabtu (19/5/2018).

Sejauh ini, bantuan untuk para korban belum diterima.

"Belum tahu kalau bantuan," katanya singkat.

Baca juga: Dewanti Tanggung Biaya Pengobatan Para Korban Ledakan Ketel Uap

Baca juga: VIDEO Ledakan Besar di Kota Batu, Identitas Lima Korban Sudah Diketahui

Sementara itu, ketel uap pembuat tahu yang meledak di Jl Wukir, Dusun Putuk, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu diakibatkan tekanan terlalu tinggi. Ketel uap itu dimodifikasi sendiri oleh Didik.

Lurah Temas Bambang Hari Suliyan mengatakan jika kejadian ledakan itu dari ketel uap tahu milik Didik. Dari informasi para pelaku usaha tahu, ketel uap tidak sesuai dengan standart.

“Saya mendengar sendiri dari penjelasan Pak Sutrisno, beliau adalah pengusaha tahu yang cukup besar kalau ketel uapnya itu tidak sesuai denga standar,” ungkap Suliyan, Sabtu (19/5/2018).

Ia menjelaskan, ketel uap itu tidak sesuai dengan standar karena menggunakan drum bekas. Selain itu lempengan drum juga tipis.

“Ketel uap tahu ini memang dibuat sendiri oleh Pak Didik. Sebelumya ia adalah karyawan di sebuah pabrik tahu. Ia baru saja membuka usaha pembuatan tahu secara mandiri sejak empat bulan yang lalu,” imbuhnya.

Setelah diamati, lanjut Suliyan, ketel uap itu tidak memiliki saluran pembuangan. Selain itu juga tidak ada pengukur tekanan pada ketel uap.

“Ternyata gak ada pengukur tekanannya. Sehingga saat tekanan yang terlalu panas tidak terlihat,” jelas Suliyan.

Pihak kelurahan akan mengumpulkan para pelaku usaha tahu mulai dari yang besar hingga kecil. Hal tersebut sesuai dengan intruksi Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko untuk mendata dan mengumpulkan pelaku usaha tahu.

“Kami segera lakukan pendataan lalu mengumpulkan pelaku usaha tahu di Kelurahan Temas. Kami akan memberikan pelatihan dan pengawasan supaya tidak terjadi lagi hal seperti ini,” tambahnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved