Minggu, 19 April 2026

Surabaya

BNPT Sebut ITS Surabaya Terpapar Radikalisme, Begini Reaksi Rektor Joni Hermana

REKTOR ITS: Kami melihat di sini tenang-tenang saja. Itu dari kacamata kami sebagai akademisi. Kami menunggu dari BNPT untuk memberikan data.

Penulis: sulvi sofiana | Editor: yuli
facebook
Prof Daniel M Rosyid, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk memberikan data resmi terkait tuduhan perguruan tinggi yang terpapar radikalisme.

Rektor ITS, Prof Joni Hermana, sebelumnya berterima kasih kepada BNPT yang sudah memberi peringatan atau indikasi bahwa ITS adalah salah satu perguruan tinggi yang masuk dalam tujuh perguruan tinggi yang terpapar radikalisme

"Kami melihat di sini tenang-tenang saja. Itu dari kacamata kami sebagai akademisi. Kami menunggu dari BNPT untuk memberikan data dan membantu ITS menelusuri titiknya di mana. Melawan radikalisme tidak mudah karena tidak terlihat. Kami mohon dibantu untuk bisa mengidentifikasi agar tidak salah langkah," jelas Prof Joni.

Joni menyatakan, ITS sudah menelusuri karyawan yang mempunyai faham seperti itu, namun masih dibatasi kepada mereka yang terlibat organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

"Tapi ini juga sebagai proses pembelajaran seperti apa yang dimaksud dengan radikalisme agar bisa melakukan antisipasi dengan benar," katanya. 

BERITA TERKAIT: Benarkah 3 Dosen ITS Surabaya Dukung Hizbut Tahrir? Ini Jawaban Daniel M Rosyid

Ditanya adanya penyusupan paham radikal ke Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Joni menegaskan pihaknya sudah melakukan pembinaan secara berjenjang.

Sejak mahasiswa baru masuk ke ITS, sudah melakukan proses pendidikan berupa pelatihan spiritual dan kebangsaan. Sehingga diharapkan dengan demikian wawasan mereka lebih baik dan memahami mereka bagian dari NKRI.

"Ada proses pendidikan dan pengaderan yang berlangsung sekitar dua minggu yang dilakukan secara terintegral sehingga membuat bisa memberi pemahaman yang baik ke mahasiswa," ujarnya.

Selanjuutnya, dalam setahun berjalan mereka diwajibkan masuk UKM. UKM di bawah pembinaan Direktur Kemahasiswaan ITS. Dari situ ITS berupaya sebaik mungkin mencegah adanya penyusupan. 

"Tapi sekali lagi, melawan radikalisme itu melawan sesuatu yang tidak kentara sehingga perlu tambahan informasi dari BNPT, polisi dan lainnya agar dalam proses pembinaan bisa dilakukan dengan baik dan tidak sampai tersusupi hal-hal yang tidak diinginkan," ucapnya.

Rudhy Ivan Noor, wakil Ketua Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITS mengungkapkan rasa prihatinny atas tuduhan kampus terpapar radikalisme. Apalagi ia sebagai orang tua yang memiliki dua anak yang belajar di ITS, satu sudah lulus satunya masih semester enam.

"Ikoma membawahi sampai 18.000 orang tua mahasiswa ITS. Sebagai preventifnya awal bulan September, Ikoma akan mengumpulkan seluruh orang tua mahasiswa baru. Akan kami pembekalan agar anaknya selalu diawasi," urainya.

Karena di lingkungan kampus mungkin juga ada tamu yang masuk dan memberikan doktrin baru pada mahasiswa.

Meskipun demikkian, menurutnya pihak kampus tidak bisa membatasi aktivitas religius anak. Karena pastinya orang tua juga ingin anaknya memiliki wawasan dan ilmu keagamaan disamping pendidikan akademik.

"Kalau mau dibuat aturan tertulis larangan-larangan kegiatan sepertinya tidak bisa. Hanya bisa secara lisan misalnya ada kegiatan di Masjid ada perkumpulan yang mengarah ke radikalisme, anak-anak lapor ke orang tua juga," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved