Tulungagung

Jembatan Bambu ini Menghasilkan Rp 1,5 Juta dalam Sehari

“Hari pertama lebaran dapat penghasilan Rp 1.500.000. Jadi ada sekitar 500 motor yang lewat,” tambah Agus.

Jembatan Bambu ini Menghasilkan Rp 1,5 Juta dalam Sehari
david yohanes
JEMBATAN BAMBU - Jembatan darurat ini menghubungan Desa Pucunglor, Kecamatan Ngantru di sisi utara Sungai Brantas dan Desa Bukur, Kecamatan Sumbergempol di selatan Sungai Brantas. Tarifnya Rp 3.000 per motor untuk sekali menyeberang. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Masyarakat di sisi utara dan selatan Sungai Brantas Tulungagung selama ini terkendala transportasi. Tidak adanya jembatan membuat mereka mengandalkan perahu-perahu penyeberangan.

Namun di masa lebaran kali ini, perahu penyeberangan sangat antre. Untuk menggunakan jasa ini masyarakat harus menunggu lama.

Apalagi warga Desa Pucunglor, Kecamatan Ngantru di sisi utara dan warga Bukur, Kecamatan Sumbergempol di selatan, mereka jauh dari lokasi penyeberangan.

Sebagai solusi mengatasi kendala transportasi, warga membangun “tol mini” Brantas. Tol mini adalah sebuah jembatan bambu, yang menghubungkan kedua desa berbeda kecamatan yang dipisahkan Sungai Brantas ini.

Jembatan ini panjangnya sekitar 80 meter, dengan lebar sekitar 3 meter. Disebut tol mini, karena jembatan ini tidak ada antrean seperti di perehu penyeberangan.

“Perahu penyeberangan terdekat satu kilometer dari sini. Jadi jembatan ini memangkas jarak dan waktu,” ujar seorang warga, Budiman (32), kepada SURYAMALANG.COM.

Menurut salah satu penjaga jembatan ini, Agus Triono (35), untuk membangun jembatan bambu ini diperlukan waktu 2 minggu. Selain Agus, ada lima warga lain yang membangun jembatan ini. Agus memastikan, jembatan ini sangat kuat untuk dilewati sepeda motor.

Desainnya rangkanya juga dibuat layaknya jembatan rangka baja pada umumnya. Beberapa kali Agus dan kawan-kawan melakukan uji coba kekuatan jembatan. Jembatan bisa dilewati 15 sepeda motor sekaligus.

Berkat keuletannya, jembatan ini selesai saat hari lebaran, Jumat (15/6) dini hari. Meski demikian, Agus menempatkan orang untuk mengatur lalu lintas di atas jembatan ini.

“Tetap kami upayakan jangan sampai simpangan di atas jembatan, sekadar mengurangi risiko saja. Jadi lewatnya secara bergantian,” tutur Agus.

Untuk membangun jembatan ini, Agus dan kawan-kawan merogoh uang pribadi hingga Rp 15 juta. Di antaranya untuk membeli rangka besi pondasi jembatan. Kemudian ada juga batang pohon kelapa untuk menguatkan pondasi.

Sementara rangka di atasnya menggunakan bambu. Untuk melewati jembatan ini, setiap motor dikenakan tarif Rp 3000. Tarif ini lebih murah dibanding perahu penyeberangan, yang memasang tarif Rp 5000 selama lebaran.

“Hari pertama lebaran dapat penghasilan Rp 1.500.000. Jadi ada sekitar 500 motor yang lewat,” tambah Agus.

Rencananya Agus akan mempertahankan jembatan darurat ini. Selepas lebaran, tarif akan diturunkan menjadi Rp 2000 per motor. Lokasi jembatan darurat ini tidak jauh dari lokasi pembangunan Jembatan Ngujang 2.

Saat ini Sungai Brantas memang tengah turun debet alirannya karena memasuki musim kemarau. Sehingga alirannya menyempit dan dangkal. Namun saat musim hujan datang, kemungkinan jembatan darurat ini akan tenggelam dalam aliran Brantas. 

Penulis: David Yohanes
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved