Pilkada Kota Malang
Coblosan Berlangsung Semarak dan Tak Ada Golput di Lapas Klas I Malang
Tak hanya pakaian adat. Di TPS ini ruangannya juga diseting seperti lingkungan Bali. Ada payung khas Bali yang menyambut di pintu masuk TPS.
Penulis: Benni Indo | Editor: yuli
SURYAMALANG.COM, BLIMBING – Empat TPS di dalam Lapas Klas I Malang betul-betul serius menyambut Pilkada 2018 pada 27 Juni 2018. Bagaimana tidak, dari keempat TPS itu, masing-masing memiliki keunikan sendiri.
Ada TPS nomor 43, 44, 45, dan 46. Di TPS nomor 43, panitianya kompak mengenakan seragam Arema. Kepala Lapas Klas I Malang Farid Junaedi mengatakan, TPS nomor 43 itu sengaja mengenakan kostum Arema karena merupakan tim kebanggaan warga Malang Raya. Selain itu, juga untuk memeriahkan Asian Games dan Piala Dunia 2018.
Sedangkan di TPS nomor 44, petugasnya mengenakan seragam biasa. Seragam petugas yang sehari-hari berjaga. Baru berbeda ketika di TPS nomor 46. Di TPS ini, seluruhnya mengenakan pakaian adat bali.
Tak hanya pakaian adat. Di TPS ini ruangannya juga diseting seperti lingkungan Bali. Ada payung khas Bali yang menyambut di pintu masuk TPS. Sedangkan di TPS 45, petugas mengenakan pakaian adat khas Jawa Timur. Ruangangannya juga dirias sebegitu bagus dengan ornamen bunga-bunga yan ditata.
“LP itu kan miniatur masyarakat. Ada berbagai suku. Ini juga lagi ramainya Asian Games dan Piala Dunia. Makannya ada olahraga dan pakaian tradisional kami tampilkan karena kami ingin menampilkan hal berbeda dan semangat agar warga binaan datang menyoblos,” ujar Farid, Rabu (27/6/2018).
Dijelaskan Farid, seluruh warga binaan Lapas Klas I Malang yang memiliki hak pilih menyalurkan hak pilihnya di TPS masing-masing. Tercatat ada 1003 pemilih yang berada di Lapas Klas I Malang.
“Pemilih di sini sangat antusias. Awalnya DPT 449, lalu bertambah menjadi 1003. Mulai pukul 7.00 wib petugas sudah melayani pemilih,” katanya.
Divisi SDM dan Parmas KPU Kota Malang Ashari Husen yang saat hari H uga meninjau jalannya coblosan di Lapas mengatakan, fasilitas di Lapas Klas I Malang sudah mencukupi sehingga para pemilih bisa menyalurkan hak suaranya. Apalagi dengan adanya kreativitas petugas, membuat calon pemilih sangat senang datang ke TPS.
“Pemilihan di sini berjalan dengan baik. Pantauan kami panitia sangat kreatif,” kata Ashari.
Namun Ashari juga mengomentari sedikitnya para saksi yang hadir di Lapas Klas I Malang. Seharusnya, saksi di TPS berjumlah lima orang. Namun jumlah itu tidak terpenuhi di masing-masing TPS di Lapas Klas I Malang.
Abdul Qadir Amir Hartoni, anggota DPD RI yang turut mengunjungi Lapas Klas I Malang juga mengapresiasi jalannya pemilihan di Lapas Klas I Malang. Ia bersama sejumlah anggota lainnya sudah berada di Kota Malang sejak tanggal 24 Juni 2018. Selain Kota Malang, anggota DPD RI juga mengunjungi daerah lain seperti Pasuruan.
“Hasil tinjauan kami ini akan kami bahas di Jakarta. Selain bicara terkait kesuksesan terselenggaranya pemilihan, kami juga akan membahas terkait kendala-kendala yang ada. DPD juga bisa mengusulkan perbaikan baik dalam rancangan PKPU maupun UU.
“Bila perlu ya Perpu. Namun Pilkada di Kota Malang cukup baik. Ini menunjukkan kesadaran berpolitik dan berdemokrasi masyarakat Kota Malang tumbuh baik,” kata Qadir..
Sulisdyono, seorang napi yang sudah menjalani sekitar dua tahun di Lapas Klas I Malang mengaku merasa senang bisa menyalurkan hak pilihnya. Ia sendiri cukup terkesan dengan kesiapan panitia yang menghias TPS dengan bentukbentuk unik.
“Habis ini saya mencoblos. Senang bisa mencoblos karena turut serta menentukan pemimpin,” kata lelaki asal Sumbermanjing Wetan itu.
Sulisdyono berharap, pemimpin yang jadi nanti bisa membawa kebaikan bagi masyarakat, khususnya di Jawa Timur. Apalagi, menurutnya, pilkada di Jawa Timur berjalan dengan baik dan harmonis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/kalapas-klas-i-malang-farid-junaedi_20180627_200011.jpg)