Tulungagung

Punggung Sudah Penuh Luka Usai Hadapi 9 Orang, Anshori Masih Berani Cari Lawan

Imam Basori (45) mengelus lengan kirinya yang terluka memanjang. Namun dengan bangga Imam memamerkan luka itu sembari menyengir.

Penulis: David Yohanes | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/David Yohanes
Peserta tiban melenting ke udara sambil menangkis lecutan senjata lawannya saat ikut tradisi tiban di Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Tulungagung, Minggu (15/7/2018). 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Imam Basori (45) mengelus lengan kirinya yang terluka memanjang, Minggu (15/7/2018).

Namun dengan bangga Imam memamerkan luka itu sembari menyengir.

“Hanya ini satu-satunya luka yang telak. Luka yang lain tidak apa-apa,” ucap Basori, sambil menunjukan penggungnya yang memerah kepada SURYAMALANG.COM.

Basori adalah satu dari ratusan warga yang ikut tradisi tiban di Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Tulungagung.

( Baca juga : Perbandingan Kocak Keluarga Baim Wong & Paula Verhoeven, Lihat Perbedaannya )

Tiban adalah seni tradisional yang dulunya adalah ritual untuk memanggil hujan.

Ada yang mengartikan tiban sebagai tibo udan (turun hujan).

Dalam tiban, siapa saja bisa masuk ke dalam gelanggang.

Peserta tidak bisa memilih lawan.

( Baca juga : Bocoran Jadwal Penerimaan CPNS 2018 di Akhir Juli, Siap-siap Ini Situs Resmi Informasi & Pendaftaran )

Setiap peserta diberi kesempatan untuk mencambuk lawannya tiga kali secara bergantian.

Cambuk yang dipakai adalah pilinan lidi aren yang disebut ujung.

Di bagian ujung pilinan disisakan sehelai lidi yang memanjang.

Lidi inilah yang bisa merobek kulit jika kelecutkan dengan tepat ke lawan.

( Baca juga : Deddy Corbuzier Blak-blakan Soal Sejarah Nama Corbuzier Pemberian Mantan Kekasihnya Dulu )

“Tadi saya sudah bertanding tiga kali. Sekali lengah langsung terluka parah ini,” ujar warga Siyotobagus, Besuki tersebut.

Dalam perkembangannya, unsur ritual dalam tiban memang luntur.

Tiban telah menjadi olah raga tradisional yang dilakukan di saat musim kemarau.

Banyak desa di Tulungagung yang mempunyai kelompok warga penggemar tiban.

( Baca juga : Usai Mati Suri, Pria London Ceritakan Pengalamannya Lewat Lukisan yang Bikin Bergidik )

Anshori (35) malah sudah menghadapi sembilan lawan dalam arena tiban.

Meski mempunyai teknik yang bagus, tidak menjamin Anshori luput dari lecutan ujung.

Beberapa luka meneteskan darah terlihat di bagin punggungnya.

“Namanya juga senang. Meski pun sakit seperti tidak dirasakan.”

( Baca juga : Lucunya Arsy Hermansyah Saat Makan Cokelat Raksasa Sampai Kesusahan Buka Bungkusnya )

“Saya sudah sembilan kali tanding. Mau nambah juga, saya masih berani,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut Anshori, ada pertandingan tiban di desanya pada pekan depan.

Anshori yakin lukanya sudah sembuh dan bisa turun ke arena.

Bersama warga, dia latihan khusus jurus-jurus tiban.

( Baca juga : Resmi Jadi Pemain Arema FC, Makan Konate Komentari Soal Rivalitas Singo Edan dengan Persib Bandung )

Misalnya, cara melecutkan ujung dan cara menangkis serangan lawan.

Menurutnya, yang paling penting adalah membaca gerakan lengan lawan.

Ke mana lengan lawan mengayun, maka harus diikuti dan diblok  atau dihindari.

“Makanya harus melotot fokus melihat lengan musuh.”

( Baca juga : Milan Komentari Soal Petaka yang Dialami Arema FC di 50 Detik Terakhir dalam Laga Kontra PS Tira )

“Lengah sedikit, atau waktu dipukul menutup mata, pasti habis punggung kita,” katanya.

Panitia, Susilo mengatakan peserta berasal dari berbagai desa, hingga ke Trenggalek

Menurutnya, selama ini telah terjalin jalinan silaturahmi sesama penggemar tiban.

Jika ada desa yang menggelar tiban, maka setiap desa yang punya komunitas tiban akan hadir.

( Baca juga : BREAKING NEWS : Arema FC Perkenalkan Makan Konate Sebagai Rekrutan Terbaru )

“Ini upaya komunias tiban untuk menjaga tradisi.”

“Jangan sampai salah satu budaya Jawa ini punah,” ucap Susilo.

Lanjut Susilo, cukup sulit untuk meregenerasi tiban di kalangan anak muda.

Sebab butuh nyali untuk bertarung di tengah arena menggunakan cambuk lidi aren ini.

( Baca juga : Satpol PP Kediri Obok-obok Tempat Hiburan Malam, Pergaulan Kids Zaman Now Kelewat Batas )

Karena itu di setiap arena tiban, dibuka kesempatan untuk para pemula.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved