Malang Raya

Dirjen Bea Cukai Dengarkan Curhat Pelaku Usaha Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya

Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai akan mendengarkan keluhan dari pelaku usaha Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL).

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai akan mendengarkan keluhan dari pelaku usaha Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL).

Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi menegaskan sejak Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang mengatur tentang HPTL diberlakukan 1 Juli 2018, saat ini masih masa sosialisasi, diskusi, dan asistensi.

"Peraturan ini akan diimplementasikan 1 Oktober nanti, saat ini kami masih lakukan sosialiasi, diskusi, juga asistensi kepada pelaku usaha vape dan sebagainya. Tentunya semua keluhan dari industri dan pelaku usaha akan kami dengarkan," ujar Heru usai memimpin pemusnahan barang bukti hasil penindakan di Kanwil Bea Cukai Jatim II di Kota Malang, Jumat (3/8/2018).

Baca: Bea Cukai Sita Mesin Produksi SKM Tapi Produknya Dilekati Pita Cukai SKT

Ketika penjualan HPTL ini diatur, kata Heru, pihaknya mendapatkan apresiasi dari pelaku usaha. Keberadaan aturan itu, lanjutnya, membikin usaha yang mereka lakoni berubah menjadi usaha formal.

Menurut Heru, di Malang Raya ada 20 pelaku usaha yang mengajukan Nomor Pokok Pengusaha (NPP) Barang Kena Cukai (BKC).

Meskipun begitu, tegas Heru, pihaknya tetap melakukan asistensi kepada pelaku usaha baru HPTL ini. "Tentunya kami lakukan asistensi, apa yang mereka butuhkan dan bisa lakukan," tegasnya.

Karena sudah memiliki payung hukum, HPTL bakal mengumbang pendapatan negara dari sektor cukai. Tetapi, kata Heru, jumlahnya tidak sebesar rokok.

"Pasti menyumbang, namun jumlahnya masih kecil-lah. Saat ini kami fokus kepada pengendalian dan pengaturan dulu, bukan fokus kepada penerimaan," tegasnya.

HPTL merupakan kelompok barang kena cukai (BKC) yang baru diatur oleh pemerintah. Produk HPTL adalah ekstraks dan esens tembakau (EET), tembakau molasses, tembakau hirup (snuff tobacco), dan tembakau kunyah (chewing tobacco).

Produk EET yang terkenal berupa liquid untuk rokok elektrik atau vape. Sedangkan tembakau molasses bisa dilihat ketika seseorang menghirup shisha.

Sedangkan, anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo mendorong Bea Cukai mempercepat munculnya regulasi barang kena cukai baru. "Jadi nantinya cukai ini tidak hanya banyak tergantung kepada rokok, namun juga barang kena cukai baru seperti plastik, minuman pemanis berkarbonat. Pengendalian sangat penting, karena bisa melindungi konsumen dan lingkungan hidup," tegas Andreas.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved