Minggu, 10 Mei 2026

Surabaya

Nelayan Surabaya Ancam Hentikan Proyek Kereta Gantung Kenjeran- Suramadu

Kereta kabel ini akan membentang dari Jembatan Suramadu hingga Kenjeran nantinya. Namun untuk awal proyek akan dibangun kabel baja..

Tayang:
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: yuli
nuraini faiq
Sejumlah nelayan Tambak Wedi usai menyampaikan aspirasi mereka di DPRD Surabaya karena fasilitas kampung nelayan rusak terkena dampak Pembangunan Kereta Gantung, Jumat (3/8/2018). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Warga nelayan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran, mendatangi kantor DPRD Kota Surabaya, Jumat (3/8/2018). Mereka mengancam menolak dan menghentikan proyek kereta gantung yang saat ini berproses.

Kereta kabel ini akan membentang dari Jembatan Suramadu hingga Kenjeran nantinya. Namun untuk awal proyek akan dibangun kabel baja membentang sepanjang 1 KM menyeberangi Jambatan Suramadu.

"Kalau begini caranya, nelayan menolak Pembangunan Kereta Gantung. Kalau tempat pengasapan ikan dan Pos Jaga kami tak dibangun lagi, kami akan hadang dan tolak proyek kereta gantung," kata Mustofa, tokoh masyarakat nelayan usai hearing dengan Komisi A dan Ketua DPRD Surabaya Armuji.

Warga nelayan selama ini mengaku tidak tahu kalau ada rencana Pembangunan kereta gantung. Mereka juga tidak mendapat sosialisaai dan pemberitahuan bahwa proyek CSR dari PT PP Property (BUMN) itu akan berdampak pada fasilitas kampung.

Warga baru sadar saat mendapati Pos Pantau nelayan dan tempat pengasapan ikan dihancurkan. "Kami tidak tahu kenapa 3 pos penjagaan nelayan dihancurkan bersama pengasapan ikan;" tambah Wiyono, warga yang lain. 

Selama ini, tiga pos jaga nelayan digunakan oleh warga mengawasi aktivitas di pantai. Sebab kalau tidak diawasi dan dijaga, diesel hingga barang lain bisa hilang. Begitu juga pengasapan ikan sangat dinantikan warga untuk memanggang ikan segar. 

Dengan Dalih untuk tujuan pembangunan proyek kereta gantung saat ini tiga pos nelayan dirobohkan. Begitu juga fasilitas nelayan lain. Nelayan meyesalkan prosesnya. Sebab mereka tidak tahu kalau bakal ada kereta gantung di kampungnya.

Saat ini, dua titik tiang pancang telah dikerjakan. Tiang ini sebagai tempat pemberhentian dan naiknya penumpang. Untuk memulai proyek inilah, fasilitas kampung nelayan itu dimanfaatkan.

Sementara itu, salah satu Direksi PT PP Property Ahmad Mujiono yang hadir dalam pertemuan dengan warga nelayan menyebutkan bahwa pihaknya sudah berusaha kooperetif dengan nelayan. Dia tidak paham kenapa warga tidak tahu rencana proyek besar itu. 

"Persoalan utama adalah warga minta ganti rugi pos jaga untuk nelayan dan tempat pengasapan dibangun kembali. Bukan penolakan proyek kereta gantung. Namun kenapa fasilitas itu dirobohkan;" kata Ahmad.

Pihaknya menuturkan bahwa langkah merobohkan tiga pos itu sudah melalui pemberitahuan. Bahkan pihaknya bersama Pemkot sudah berkali-kali memberi peringatan dan sosialiasi sebelum petugas merobohkannya. 

"Besok Selasa akan ada pertemuan penting dan sosialisasi penuh. Bersama dewan dan masyarakat di lokasi proyek. Akan kami jelaskan penuh besok," kata Agus.

Ketua DPRD Surabaya Armuji yang ikut menemui nelayan meminta Pemkot tidak membongkar fasilitas nelayan sebelum ada solusi. "Pemkot kecenderungannya begitu. Kami bisa memahami keinginan nelayan," kata Armuji.

Warga saat ini juga hanya melihat tanah kampungnya tengah dipadatkan. Informasinya kampung Tambakwedi ini akan manjadi akses menuju lokasi naik dan turun penumpang kereta gantung. 

Saat ini dua tiang pancang kereta gantung sedang dibangun. Kereta ini akan melintas dari sisi kiri Jembatan Suramadu dari arah Surabaya atau sisi barat. Nantinya ketinggian kereta gantung itu beragam. Tertinggi ada di atas Jembatan Suramadu mencapai 25 meter.

Proyek kereta gantung adalah proyek CSR PT PP Property. Saat ini sudah disiapkan lahan 6,5 hektar oleh BUMN ini. Selain untuk kereta gantung juga nanti ada apartemen, mal, dan perkantoran. 

Ditargetkan kereta gantung ini dioperasikan akhir tahun ini. Kereta gantung itu sudah dipesan dari China sebanyak 20 unit. Tiap unit nantinya akan bisa memuat maksimal 6 orang. 

Tags
Surabaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved