Kota Batu
Usaha Menasionalisasi Tambang Migas Jalan Terus
Produksi minyak nasional itu 90 persen dihasilkan dari sumur-sumur tua. Sedang sisanya sekitar 10 persen dihasilkan sumur baru.
SURYAMALANG,COM, KOTA BATU - Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (Migas) terus berupaya menghapus image negatif pada masyarakat bahwa pemerintah pro- asing dalam urusan migas. Sebab, saat ini usaha pemerintah untuk melakukan nasionalisasi migas masih terus berjalan.
Hal ini diungkapkan Kepala Departemen Humas SKK Migas Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Doni Hariyanto, saat ditemui SuryaMalang.com di sela kegiatan Lokakarya Media Periode II SKK Migas Perwakilan Jabanusa-Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) Cluster Timur. Kegiatan ini digelar di Hotel Golden Tulip, Kota Batu, Kamis (9/8)/2018.
Doni memberi contoh beberapa kelola migas yg telah dinasionalisasi, yaitu pertama tambang migas di Bontang yang semula dikelola Total EP, kini telah dikelola Pertamina. Migas di Tuban yang semula dikelola JOB Petrochina kini sepenuhnya dikelola Pertamina Hulu Energi (PHE) serta Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP).
Selain itu, migas di Okan Komering Hulu yang semula dikelola Talisman kini juga dikelola PHE. Saat ini yang sedang diusahakan untuk nasionalisasi adalah migas di Rokan yang dikelola Cheveron. Untuk yang di Rokan ini Pertamina yang akan mengelolanya.
Untuk investasi asing, kata Doni, kini diarahkan ke daerah-daearah yang tingkat kesulitan eksplorasi dan ekspliitasinya tinggi. Sebab, daerah seperti itu butuh teknologi yang tinggi.
Sementara terkait sharing participated interest antara KKKS dengan pemerintah, Doni, menjelaskan tetap 15 persen KKKS dan 85 persen pemerintah untuk onsource. Sedang untuk obsource seperti di laut, sharingnya 20 persen KKKS dan 80 persen pemerintah. Sharing ini berlaku baik untuk kontraktor asing maupun kontraktor nasional.
"Bahkan kini sharing 15 persen bagi KKKS ini terus kita tekan dikurangi, seperti untuk tanggung jawab sosial, "jelas Deni.
Selain itu juga minimal 25 persen produksi minyaknya untuk kilang. Selama ini 100 persen produksi minyak dijual ke luar negeri. "Namun kini 25 persen itu harus dikirim ke kilang. Untuk minyak yang ke kilang ini bukan gratis, tetapi pemerintah tetap menggantinya dengan memberi kompensasi," jelas Doni.
Yanin Kholison, Lead Social and Government Bidang Dukungan Bisnis SKK Migas, saat ini kebutuhan minyak nasional sebesar 1,6 - 1,7 juta barel per hari. Sedang produksi minyak nasional sebesar 800 ribu barel per hari.
Menurutnya, produksi minyak nasional itu 90 persen dihasilkan dari sumur-sumur tua. Sedang sisanya sekitar 10 persen dihasilkan sumur baru. Karena itu, perlu terus diupayakan mencari sumur-sumur baru. eka nurcahyo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/kepala-departemen-humas-skk-migas-jabanusa-doni-hariyant_20180809_190926.jpg)