Rabu, 6 Mei 2026

Surabaya

Hati-hati Beli Hewan Kurban via Aplikasi Online, Perhatikan Hal-hal Berikut ini

"Kalau penyedia hewan tidak di Surabaya, makin repot untuk mengecek kondisi hewan yang hendak kita beli," kata Kepala Diskominfo Kota Surabaya

Tayang:
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: yuli
pixabay/PeterDargatz
ILUSTRASI KAMBING 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Masyarakat diminta waspada dan hati-hati saat menggunakan aplikasi untuk mencari hebat Kurban. Jual beli melalui online atau aplikais itu rentan penipuan. 

"Kalau penyedia hewan tidak di Surabaya, makin repot untuk mengecek kondisi hewan yang hendak kita beli," kata Kepala Diskominfo Kota Surabaya, Agus Imas Sonhaji, Minggu (12/8/2018).

Padahal sebagaimana yang disyaratkan dalam agama, tidak sembarangan kambing dan sapi memenuhi kualifikasi sebagai hewan Kurban.

Selain sehat secara fisik, tidak cacat juga harus cukup usia. Meski gemuk besar kalau tidak cukup usia untuk dijadikan Kurban juga tidak boleh. 

Jika beli online, darimana bisa mengecek kondisi hewan yang sesungguhnya untuk menenuhi kualifikasi sebagai hewan Kurban?

Sementara hewan itu hanya diketahui via aplikasi atau online. Tahu-tahu sudah diantar hingga di rumah. 

"Ini yang tidak diperbolehkan jika tidak menunjukkan sapi atau kambing sesuai persyaratan. Namun biasanya aplikasi hewan Kurban itu hanya mempertemukan pembeli dan penjual. Selanjutnya bergantung keduanya," kata Agus.

Meski demikian, ia mengakui, munculnya aplikasi  hewan Kurban oleh start up semacam itu baik untuk memajukan pertumbuhan ekonomi.

Ada ekonomi kreatif lahir deri para start up ini.

"Era teknologi gadget seperti saat ini, setiap orang tak bisa menghindar dari layanan berbasis aplikasi atau online," kata Agus.

Mantan Kepala Bappeko ini melihat banyak sisi positifnya dari munculnya aplikasi yang melayani kebutuhan hewan Kurban.

Mayarakat dimudahkan untuk mencari hewan Kurban yang diinginkan. Dengan dadget sudah bisa mempertemukan pedagang hewan Kurban dan pembeli.

Para aplikator ini merupakan pemain baru yang muncul dalam membangun jaringan pemasaran tersendiri.

Dengan begitu masyarakat mempunyai alternatif untuk cukupi kebutuhannya. "Tidak hanya beli secara konvensional di stan atau bedak hewan Kurban," kata Agus.

Munculnya aplikasi hewan kurban di mata Agus sangat positif. Artinya kue ekonomi akan lebih terdistribusi ke banyak semua lini usaha. Namun perlu tata kelola dan regulasi untuk mengatur jual beli berbasis aplikasi atau online. 

"Tata kelolanya diatur oleh pemerintah pusat. Bukan di Pemkot. Jika segera ada tata kelola dan regulasinya maka akan makin baik. Artinya ada aturan main," kata Agus.

Jika diketahui bahwa aplikator itu ternyata banyak lahir dari Surabaya, Diskominfo Surabaya hanya akan mendorong mereka makin meningkatkan karya ciptanya. Aplikasi hewan Kurban ini bukan layanan Pemkot. Melainkan ranah privat.

"Diskominfo akan fokus ke ranah layanan publik yang disupport teknologi informasi. Bukan layanan privat," tandas Agus yang belum mengecek aplikasi layanan jual beli hewan Kurban.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved