Asian Games

Serda Rifki Saat Kecil Jadi Kalahan, Akhirnya Belajar Karate dan Kini Persembahkan Medali Emas

Saya masih ingat kalau anak saya masih kelas 2 SD memang kerap berantem. Tapi karena pendiam, anak saya dienggo kalahan. Akhirnya ikut karate.

Serda Rifki Saat Kecil Jadi Kalahan, Akhirnya Belajar Karate dan Kini Persembahkan Medali Emas
ahmad zaimul haq
DISAMBUT - Prajurit KODAM V/Brawijaya peraih Emas Cabang Karate Asian Games 2018, Serda Rifki Ardiansyah, dan salah satu atlet lari, yang juga prajurit Kodam V/Brawijaya Sertu Atjong, disambut meriah saat tiba di Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Kamis (30/8/2018). Kedatangan atlet binaan Forki lulusan Bintara Prajurit Karier tahun 2016 asal Surabaya ini langsung disambut oleh Panglima Kodam (Pangdam) V/Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Begitu tiba di Kodam V Brawijaya, Serda Rifki Ardiansyah banyak meladeni foto bersama. Dengan latar belakang logo Kodam V Brawijaya, para pejabat TNI AD itu mengabadikan momen bersama pahlawan Asian Games peraih emas dari Surabaya ini. 

Bahkan saat tiba di areal Makodam, Banyak prajurit TNI AD perempuan dan para PNS perempuan di Kodam  V Brawijaya terkesan dengan sosok Rifki. Kalem dan bersahaja. "Areke ganteng," reaksi mereka sambil mengarahkan kamera HP ke arah Rifki. 

Selain Penglima Kodam V Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman, Plt Sekdaprov Jatim mewakili Gubernur Jatim Pakde Karwo, orang tua Rifki, dan prajurit Kodam juga ikut setia menanti kedatangan putranya. 

Sebenarnya atlet Karate Asian Games itu harus menunggu hingga penutupan Asian Games. Begitu tiba di Bandada Juanda, Arak-Arakan dengan Patwal sudah menanti saat Rifki keluar dari pintu tol Juanda. 

Dia langsung diarak bersama ratusan prajurit dan kendaraan tempur termasuk panser. Orangtua Rifki, Surya Kencana dan Dwi Harni Rochmani bersama adiknya Resti Adiyani menjadi saksi saat anak sulungnya disambut bak pahlawan. 

Saat ditemui, Ibunda Rifki, Dwi tak menduga bahwa putranya akan menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia di Asian Games. Apalagi putranya itu memilih menekuni olahraga karate. 

"Saya masih ingat kalau anak saya masih kelas 2 SD memang kerap berantem. Tapi karena pendiam, anak saya dienggo kalahan. Akhirnya memutuskan ikut karate," kenang Dwi yang ibu rumah tangga. 

Ayahnya yang teknisi listrik mendukung penuh putranya masuk karate. Namun mereka minta kalau memang menekuni karate harus maksimal. Harus berprestasi. Orang tua akan mendukung penuh. Karena dorong inilah, Rifki kerap menjuarai setiap kejuaraan karate tingkat lokal hingga nasional. 

Namun pengetahuan Rifki di bidang agama yang menonjol sempat dijadikan wakil da'i kecil saat duduk di bangku SD. Padahal saat itu dia masih kelas 3. Bukan kakak-kakak kelasnya yang mewakili sekolahnya dalam Pildacil. 

"Waktu itu saya sampai diingatkan Rifki. Kalau saya tidak pakai hijab nanti tidak masuk surga. Sejak saat itu saya memakai jilbab," ucap Dwi. 

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved