Tulungagung

VIDEO - Ratusan Guru Honorer Mogok Mengajar, Protes Rekrutmen CPNS di Tulungagung

Sekitar 200 honorer dari 31 SD di Kecamatan Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung menggelar aksi mogok mengajar, Kamis (20/9/2018).

Penulis: David Yohanes | Editor: yuli

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Sekitar 200 honorer dari 31 SD di Kecamatan Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung menggelar aksi mogok mengajar, Kamis (20/9/2018).

Aksi ini sebagai bentuk protes rekrutmen CPNS tahin 2018, karena dinilai tidak memihak kepentingan guru honorer.

Aksi dilaksanakan di depan UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Kauman, dan di Taman Ketandan.

Para guru membentangkan berbagai poster berisi tulisan keluhan mereka.

Salah satunya tuntutan merivisi batas usia rekrutmen CPNS yang hanya 35 tahun.

"Rata-rata kami telah mengabdi lebih dari 10 tahun, saya sudah 16 tahun. Otomatis usianya sudah di atas 35 tahun," ucap seorang guru, Setyo Budi (46).

Menurut Budi, selama ini guru honorer menjadi tulang punggung pendidikan.

Keberadaan mereka ikut mencerdaskan para peserta didik.

Namun selama ini tidak ada apresiasi yang sepadan dengan pengabdian para guru honorer ini.

"Seharusnya mereka diangkat tanpa syarat, karena mereka sudah mengabdi sangat lama," tambah Budi.

Karena itu para guru honorer ini berharap ada revisi Undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sebab tanpa revisi UU ASN, maka guru honorer tidak punya kesempatan menjadi PNS.

Guru lainnya, Lusiana mengaku sudah mengabdi selama 10 tahun.

Lusiana berharap ada apresiasi yang layak untuk para guru honorer.

Sebab para guru honorer ini hanya menerima gaji hanya Rp 150.000 per bulan, padahal mereka menjadi tulang punggung pendidikan di Tulungagung.

"Kami tidak tahu bentuknya seperti apa, setidaknya ada apresiasi dari pemerintah,"tegasnya.

Menurut para guru, aksi ini masih sebagai aksi pembuka.

Nantinya akan ada aksi yang sama di kecamatan lain, dan aksi bersama di tingkat Kabupaten.

Setiap SD di Kabupaten Tulungagung rata-rata hanya mempunyai dua guru berstatus PNS.

Sementara proses pendidikan mayoritas masih diserahkan ke para guru honorer.

Saat para guru honorer melakukan aksi unjuk rasa UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Kauman, maka proses pembelajaran pun terganggu.

Seperti yang terlihat di SDN Karanganom 2 Kecamatan Kauman, Kamis (20/9/2018).

Hanya ada dua guru PNS dan seorang kepala sekolah di sekolah ini.

Akibatnya para siswa tidak ada yang mengajar.

Mereka sebenarnya diberi tugas oleh guru PNS yang ada. Namun para siswa ini seperti mengabaikan tugas, dan bermain sesuka hatinya.

Ada yang bermain sepak bola di halaman sekolah. Ada pula yang bertengkar dengan temannya di dalam kelas.

Menurut guru PNS senior di sekolah ini, Dwi Murtiningsih, ada 9 guru honorer di SDN Karanganom 2.

"Semuanya ikut aksi. Mau gimana lagi, mereka kan memperjuangkan nasibnya," ucap Dwi.

Dwi pun kerepotan karena harus mengendalikan anak-anak di tiga kelas sekaligus.

Sementara tugas yang diberikan seolah tidak bisa mengalihkan fokus anak-anak ini agar tidak bermain sesukanya.

"Ditinggal sedikit saja sudah ramai. Bahkan ada yang nangis karena berkelahi," keluh Dwi.

Ada 17 siswa di kelas 3. Mereka seharusnya mendapat pelajaran SBK.

Meski tidak ada guru yang mengajar, mereka tetap berada di ruang kelas.

Karena tugas yang diberikan telah selesai, mereka asik bermain di dalam kelas.

"Hari ini tidak ada yang mengajar," ucap seorang siswi polos.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved