Banyuwangi

Seribu Patung Penari Gandrung di Tengah Sawah Terracotta Dancers Lereng Gunung Ijen

Patung diletakkan berjajar di empat sudut berbeda di pinggiran sawah dengan tidak mengubah fungsi sawah

Seribu Patung Penari Gandrung di Tengah Sawah Terracotta Dancers Lereng Gunung Ijen
surya malang/haorrahman
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, bersama Sigit Pramono di Gandrung Terakota Banyuwangi 

SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI -  Di hamparan sawah produktif sekitar tiga hektare lereng Gunung Ijen Banyuwangi, terdapat ratusan patung penari gandrung dengan empat formasi gerakan. Tempat itu ada di Terakota Dancer (Taman Gandrung Terakota) di Jiwa Jawa Resort Kecamatan Licin  Banyuwangi.

”Saat ini sudah hampir seribu patung penari gandrung yang kami sebar di berbagai sudut sawah,” kata Sigit Pramono, pemilik Taman Gandrung Terakota, Jiwa Jawa Resort, Banyuwangi, Sabtu (22/9).

Patung-patung tersebut diletakkan berjajar di empat sudut berbeda di pinggiran sawah. Sigit meletakkannya patung-patung itu dengan tidak mengubah fungsi sawah. Sawah tetap produktif ditumbuhi padi.

Model patung-patung gandrung tersebut diambil dari karya fotografi Sigit yang juga seorang fotografer. Karya foto tersebut lalu dibuat patung oleh seorang seniman Budi Santoso, lalu dicetak oleh pembuat patung di Kasongan, Yogyakarta.

”Sementara empat formasi gerakan. Selanjutnya terserah senimannya mau buat formasi gerakan seperti apa lagi,” kata Sigit.

Patung-patung tersebut dibuat secara manual satu persatu, sehingga meski memiliki formasi yang sama terdapat berbagai perbedaan. Perbedaan utama terletak di senyum dan mimik penari gandrung.

Patung itu dibuat dari tembikar. Tembikar merupakan barang dari tanah liat dan dibakar. Sigit mengatakan, bisa saja patung-patung itu dibuat kayu atau batu. Tapi tembikar memiliki filosofi yang kuat berkaitan dengan penari gandrung.

Gandrung merupakan bentuk terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri, sebagai Dewi Padi yang membawa kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Tembikar yang asalnya dari tanah dan dekat dengan sawah, memiliki filosofi membumi tentang siklus kehidupan. Bagi Sigit, berkarya melalui terakota melalui tembikar tidak bertujuan untuk menciptakan bentuk yang abadi atau kekal, karena memang bersifat ringkih, mudah patah, bahkan hancur seperti kehidupan.

“Dibuat dari tembikar agar lebih membumi dengan alam, sesuai dengan filosofi kehidupan,” kata mantan Direktur Utama Bank Nasional Indonesia (BNI) tersebut.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved