Breaking News:

Mojokerto

Kisah Mengerikan Suami Istri dan Anaknya asal Mojokerto saat Gempa dan Tsunami di Palu

Sebagian warga menyuruh kami tiarap. Tetapi kami tak mau. Suami saya mempunyai insting, bahwa kami harus lari ke tempat yang lebih tinggi.

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: yuli
danendra kusuma
Dian Permata Sari (27) dan Nur Afif (27), pasangan suami istri asal Dusun Sambisari, Desa Kutorejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, menjadi korban selamat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) lalu. 

Mereka memutuskan untuk turun menuju Karaja Lemba karena takut lumpur akan menerjang tempatnya berlindung.

"Saya mendapat informasi kalau di titik amannya berada Karaja Lemba. Kami pun ke sana," terangnya.

Mereka juga mendapatkan informasi dari keluarga yang berada di Mojokerto, bahwa ada pesawat Hercules datang ke Palu dengan tujuan selanjutnya ke Makassar.

"Kami pun berjalan ke Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie. Kami sampai di bandara pukul 10.30," urainya.

Selanjutnya, pembicaraan sempat terhenti sejenak.

Mata Dian menatap ke arah sudut atas rumah dan berkaca-kaca. Kemudian, Dian menghela nafas panjang lantas melanjutkan cerita sambil terisak-isak.

Ia menceritakan, sesampainya di pintu gerbang bandara, mereka dilarang masuk. Dian berusaha memberikan penjelasan kepada petugas penjagaan.

"Saya bilang ke penjaga, saya punya anak kecil, anak saya kasihan, bapak punya anak kecil kan, bagaimana kalau semisal di posisi saya?" paparnya.

Para penjaga sontak luluh, Dian dan Rizky diperbolehkan masuk dan mendata diri mereka. Sedangkan Afif tak diperbolehkan masuk.

"Waktu itu yang boleh masuk saya dengan anak saya saja. Suami saya tidak diperbolehkan," katanya.

Isak tangis Dian pecah ketika pikirannya melanglang mengingat anaknya memegang tangan petugas sambil meronta dan menangis.

Rizky berkata kepada petugas, "Tolong pak saya tidak mau ayah saya mati, saya tidak mau ayah saya kena air laut. Kalau kena air laut, saya tidak punya ayah."

"Mendengar hal itu petugas sempat diam selama 10 menit. Lalu suami saya diperbolehkan masuk," ucap Dian seraya menyeka air mata dengan ujung jilbabnya.

Mereka pun berhasil menaiki pesawat Hercules pertama yang mendarat di Palu bersama 200 orang menuju Makassar.

Selanjutnya Afif, Dian, dan Rizky mendarat di Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang pada Sabtu malam.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved