Breaking News:

Lamongan

Lindungi Kekayaan Intelektual, Unisla Siap Menjadi Sentra HKI Di Lamongan

Hak kekayan atas intelektual (HKI) penting untuk melindungi kekayaan intelektual yang telah dihasilkan, supaya tidak dibajak

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Achmad Amru Muiz
surya malang/Hanif Manshuri
Seminar Nasional HKI di Hall Hotel Grand Mahkota Lamongan yang digelar Unisla Lamongan. 

SURYAMALANG.COM,  LAMONGAN - Masih banyaknya kekayaan hak intelektual yang ada di Indonesia belum terdaftar terutama di Lamongan, menggugah Universitas Islam Lamongan (Unisla) dan Dirjen Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) Kemenristek Dikti RI, menggelar Seminar Nasional.

“Di Unisla mahasiswanya banyak, dosennya banyak, idenya juga akan selalu tumbuh terus, dan pasti di antaranya ada yang baru,” kata Dirjen HKI Kemenristek Dikti RI, Sadjuga usai menjadi keynote speaker di Seminar Nasional, di Hall Hotel Grand Mahkota Lamongan, Rabu, (3/10/2018).

Sadjuga mengungkapkan, Hak kekayan atas intelektual (HKI) penting untuk melindungi kekayaan intelektual yang telah dihasilkan, supaya tidak dibajak. Makanya, kalau nanti ada produk, perlu merk, dan bisa didaftarkan untuk dipatenkan. Syaratnya, merk itu belum dipakai oleh orang lain.  Kalau diketahui sudah dipakai orang lain, maka akan jadi sengketa.

HKI yang bisa dipatenkan, di antaranya yaitu hak cipta, merek dagang, paten, ada rahasia dagang, desain industri, tata letak sirkuit terpadu, perlindungan varietas tanaman, dan indikasi geografis.

Itu salah satunya bisa dipilih yang mana yang di daftarkan. Dan syarat utamanya, belum pernah ada dan belum didaftarkan oleh orang lain.

Menurut Sadjuga, negara ingin Indonesia punya hak paten, hingga bisa diindustrikan. Namun tidak menutup kemungkinan ke depan, lainnya juga ditingkatkan, seperti misalnya indikasi geografis.

Sebab, Indonesia banyak menyimpan kekayaan intelektual berupa spesifik daerah.  Seperti, adanya Apel Malang, dan kalau di Lamongan ada produksi wingko Babat.

"Maka disinilah peran perguruan tinggi untuk ambil bagian,” ungkap Sadjuga.

Sementara Rektor Unisla, Bambang Eko Muljono mengungkapkan, dalam dua tahun ke depan hingga Januari 2019 nanti sudah berdiri sentra HKI di Unisla yang diakui oleh Kementerian Dikti.  Keoptimisan itu diperkuat dengan hasil penelitian yang telah dihasilkan para dosen Unisla selama ini.

Sampai Desember tahun ini ada 12 buku yang dibuatkan hak cipta. Dan paling tidak sampai 2019 nanti bisa mencapai 75 produk.

Bambang menambahkan, produk yang telah dihasilkan dosen melalui proses penelitian, dan laporannya akan lebih sempurna dengan adanya seminar ini. Ia berharap, seminar HKI ini ditindak lanjuti dengan HKI, dan hak cipta. 

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved