Breaking News:

Surabaya

Menlu Jepang Beri Penghargaan Pada Tiga Tokoh Jatim, Ini Pertimbangannya

Sejak 1983 hingga 1996, dia mengurusi administrasi PJJT sehingga jadi kamus hidup masyarakat Jepang di Jatim.

ahmad zaimul haq
PENGHARGAAN - Konjen Jepang, Masaki Tani (dua kanan) bersama 3 penerima penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang 2018 di rumah dinas Konjen, Kamis (4/10/2018) malam. Ketiga tokoh itu: Oetoro (dua kiri) mewakili alm Ibu Tomiko Oetoro, Djojok Soepardjo, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Unesa (kiri) dan Joshie Halim, Wakil Ketua Pembina East Java Japan Club. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Menteri Luar Negeri Jepang memberikan penghargaan kepada tiga tokoh Jawa Timur, Kamis (4/10/2018) malam.

Penghargaan itu diberikan melalui Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya di rumah dinas Konjen Jepang, Masaki Tani.

Penerimanya adalah Tomiko Oetoro, Joshie Halim, dan Prof Dr Djodjok Soepardjo M.Litt. 

“Mereka memberi kontribusi di masing-masing bidang. Walaupun bidangnya berbeda, tapi kami menghargai mereka yang secara 30 tahun berjasa dalam mempererat hubungan Jepang-Indonesia,” jelas Masaki Tani.

Ketiganya dinilai berjasa dalam sejarah hubungan persahabatan Jepang-Indonesia.

Meski ketiga tokoh ini adalah orang Indonesia dan Jepang, tapi mereka adalah warisan persahabatan Jepang-Indonesia. “Kami harap ini tetap terjaga hubungannya,” katanya.

Tomiko Oetoro baru saja wafat pada Maret 2018 namun berjasa terhadap Perkumpulan Jepang Jawa Timur (PJJT) atau East Java Japan Club.

Sejak 1983 hingga 1996, dia mengurusi administrasi PJJT sehingga jadi kamus hidup masyarakat Jepang di Jatim.

Kemudian Joshie Halim adalah alumnus S1 dan S2 arsitektur di Universitas Negeri Yokohama dan S3 di Universitas Tokyo.

Jasanya terkait proses pembangunan gedung Sekolah Jepang Surabaya pada 1995 lalu.

“Selain itu, selama 20 tahun, beliau adalah Wakil Ketua Pembina PJJT dan Wakil Ketua Pengurus Pemeliharaan Sekolah Jepang Indonesia,” urainya.

Terakhir adalah Prof Djodjok Soepardjo. Dia menyelesaikan S2 dan S3 Bahasa dan Sastra Jepang di Universitas Nagoya Jepang.

Dia perintis peneliti Bahasa Jepang di Jatim sekaligus mendirikan kursus Bahasa Jepang ‘NICE Center’ di Surabaya pada 2000.

"Saya tetap berkomitmen menjaga hubungan Jepang-Indonesia,” kata Joshie Halim.

“Saya berharap hubungan Jepang-Indonesia lebih erat lagi, dan saya senang tetap membantu agar hubungan terjaga,” kata Prof Djodjok Soepardjo.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved