Breaking News:

Malang Raya

19 Keluarga Tuntut Kompensasi Rp 3 Juta dari Sewa Menara Telepon Seluler

Seorang ahli waris pemilik pernah memberi kompensasi Rp 500.000 per keluarga namun warga menolaknya. Warga menuntut kompensasi Rp 3 juta.

menara operator telepon seluler mencuat di Desa Tirtomarto, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang 

SURYAMALANG.COM, AMPELGADING - Urusan uang kompensasi dari sewa menara operator telepon seluler mencuat di Desa Tirtomarto, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

Menara setinggi 50 meter itu habis masa kontraknya pada 17 Agustus 2017. Namun hingga saat ini belum jelas perpanjangan kontraknya, termasuk nilai kompensasi bagi warga setempat.

"Nilai kompensasi yang diajukan warga tidak disetujui," ujar warga Desa Tirtomarto yang menolak disebutkan namanya, Selasa (30/10/2018).

Pria tersebut menjelaskan, 19 keluarga terdampak sudah melakukan mediasi dengan pemilik lahan. Namun, pihak pemilik lahan bersedia memberi kompensasi hanya Rp 500.000 per keluarga.

"Warga tidak mau karena kompensasi yang disepakati warga Rp 3 juta," tambahnya.

Warga terdampak mengancam akan menonaktifkan tower jika tidak ada juga kejelasan, baik pemilik lahan maupun pihak provider.

Sementara, Kepala Desa Tirtomarto, Joni Suhariyanto, mengatakan, tower itu berdiri di atas lahan milik mendiang Sumingan alias Haji Zen. 

Tower tersebut berdiri sejak  tahun 2007 silam dengan kesepakatan kontrak selama 10 tahun.

Akan tetapi, ketika terjadi perpanjangan kontrak sekitar Agustus 2017 lalu, tidak ada  pemberitahuan kepada warga di radius 60 meter yang sejumlah 19 keluarga.

"Seorang ahli waris pemilik pernah memberi kompensasi Rp 500.000 per keluarga namun warga menolaknya. Warga menuntut kompensasi Rp 3 juta," paparnya.

Pihak desa sudah berusaha memfasilitasi permasalahan tersebut namun belum berhasil.

"Pemilik lahan dan pihak penyewa belum bisa kami pertemukan," ujar Joni, Selasa (30/10/2018) siang.

Joni menambahkan, mediasi warga bersama ahli waris pemilik lahan telah berlangsung selama dua kali, namun hasilnya masih sama.

Joni mengaku, setelah mediasi kedua yang dilakukan 24 April 2018, Joni sempat dihubungi oleh pemilik lahan melalui pesan singkat yang berisi, besaran kompensasi akan dinaikan menjadi Rp 1 juta per keluarga.

"Lalu saya balas, akan saya komunikasikan dulu sama warga yang terdampak. Sejak saat itu ia tidak pernah komunikasi lagi. Selain itu kesulitan menghubungi pihak provider karena terbatasnya informasi tentang provider tersebut," pungkas Joni.

Penulis: Mohammad Erwin
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved