Tulungagung

Enam Penyerang Mahasiswa IAIN Di Tulungagung Ditangkap, Dua Masih Anak-anak

Polisi sangat terbantu dengan rekaman video di lokasi kejadian. Dari video itu polisi bisa mengidentifikasi pelaku penyerangan.

Enam Penyerang Mahasiswa IAIN Di Tulungagung Ditangkap, Dua Masih Anak-anak
suryamalang.com/David Yohanes
Waka Polres Tulunaggung, Kompol Andik Gunawan menanyai pelaku penyerangan mahasiswa IAIN Tulungagung yang ditangkap. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG  - Polisi menangkap enam orang terduga pelaku penyerangan terhadap 10 orang mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, pada Minggu (11/11/2018) sore di Desa Plosokandang Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Penyerangan itu mengakibatkan Sania Fikhi Tatoriq (19) mengalami luka di punggung kiri, karena ditusuk pecahan kaca.

Enam terduga pelaku itu adalah AH (17) dan BG (16) asal Kecamatan Ngantru, Rizki Chonio Efendi (19), Muhammad Angara Putra (22), Muhammad Agung Yuliandri (20), serta Muhaimin Dzulzalali Efendi (20)  keempatnya warga Desa Banjarsari Kecamatan Ngantru.

“Dari penyelidikan, identitas mereka berhasil kami ketahui. Selanjutnya mereka kami jemput di rumah masing-masing,” terang Wakapolres Tulungagung, Kompol Andik Gunawan, Rabu (14/11/2018).

Polisi menyita belasan batu berbagai ukuran, sebuah botol kaca dan tiga telepon genggam. Lanjut Andik, polisi sangat terbantu dengan rekaman video di lokasi kejadian. Dari video itu polisi bisa mengidentifikasi BG.

BG kemudian dijemput di rumahnya, pada Selasa (13/11/2018) malam. Dari BG polisi mendapatkan sejumlah nama yang ikut dalam penyerangan itu. Bahkan BG juga menunjukkan rumah masing-masing terduga pelaku.

“Petugas berpakaian sipil kemudian kami perintahkan untuk menangkap masing-masing di rumahnya. Semua telah kami tetapkan sebagai tersangka,” tambah Andik.

Semua pelaku dilakukan penahanan, kecuali AH dan BG yang masih di bawah umur. Meski tidak ditahan, keduanya tetap menjalani proses hukum. Kepada penyidik, para tersangka ini mengaku awalnya tidak ada niat mengeroyok.

Ketika itu mereka tengah dalam suasana euforia usai nonton dangdut bersama-sama. Dalam perjalanan pulang, rombongan yang berjumlah sekitar 100 orang ini melihat salah satu mahasiswa mengenakan kaus sebuah berguruan silat.

“Kebetulan mereka dari dua kelompok yang berbeda. Begitu lihat kaus yang dikenakan dari organisasi lain, mereka emosi dan melakukan penyerangan,” tutur Andik.

Para tersangka akan dijerat pasal 170 KUH Pidana, tentang pengeroyokan, dengan ancaman 5 tahun 6 bulan penjara. Polisi juga telah memetakan peran masing-masing tersangka, seperti memukul dan melempar batu ke korban.

“Masih kami kembangkan, tidak menutup kemungkinan ada tersangka baru,” pungkas Andik.

Saat ditanya, salah satu pelaku, AH mengaku tidak ada niat untuk menyerang para mahasiswa itu. Ia mengaku hanya ikut-ikutan, saat anggota rombongan mulai menyerang. Secara spontan remaja ini ikut melakukan penyerangan.

“Saya terbawa situasi saat itu, hanya ikut-ikutan teman. Saya sangat menyesal, tidak mengira sampai begini,” ujarnya.

Seperti diketahui, sepuluh mahasiswa tengah ngopi di Warkop Brombong Desa Plosokandang Kecamatan Kedungwaru, Minggu (11/11/2018) sore. Karena warkop tengah penuh, mereka membawa minumannya ke Pos Kamling yang ada di depan warkop. Saat itulah ada lebih dari 100 orang melintas, selesai pulang menyaksikan pertunjukan dangdut.

Saat melihat Sania mengenakan kaus perguruan silat, mereka menyerang dengan lemparan baru dan memukul. Seorang pelaku menusukkan pecahan kaca, dan mengenai punggung kiri Sania. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved