Surabaya

Gigolo Gay Peras Pelanggan Rp 700 Juta, Usai Rekam Adegan Mereka di Apartemen Educity Surabaya

Video rekaman hubungan intim itu jadi alat untuk memeras korban dengan meminta uang sejumlah Rp 700 juta.

Gigolo Gay Peras Pelanggan Rp 700 Juta, Usai Rekam Adegan Mereka di Apartemen Educity Surabaya
Superball
Ilustrasi. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Polda Jatim merilis penangkapan gigolo gay yang memeras korbannya, Selasa (20/11/2018) siang.

Pelaku berinisial S (29), warga Parengan, Tuban. Ia semula bekerja sebagai karyawan swasta.

Namun terhitung sejak 2011, ia beralih pekerjaan sebagai gigolo gay.

Selama ini dia tinggal di Apartemen Educity Stanford No 1001 Surabaya. Dan di tempat itu juga ia melayani para pelanggannya.

Biasanya ia mematok tarif untuk pelanggan dalam kota seharga Rp 2,5 juta untuk sekali kencan. Namun, untuk pelanggan luar kota, tarif bisa berubah menjadi kisaran Rp 15 Juta - Rp 20 Juta.

Menurut Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan, dalam sepekan, pelaku bisa melayani 3 pelanggan.

Uang hasil melayani pelanggan untuk biaya hidup sehari-hari termasuk membayar tagihan apartemen seharga Rp 5 juta per bulan.

Luki mengungkapkan, awal mula kasus pemerasan ini terungkap saat pelaku memeras pelanggannya, setelah diam-diam merekam adegan mereka. 

Video rekaman hubungan intim itu jadi alat untuk memeras korban dengan meminta uang sejumlah Rp 700 juta.

Bila tak dipenuhi, pelaku mengancam akan menyebar rekaman video tersebut kepada khalayak umum. Tujuannya, tentu saja, mempermalukan korban di hadapan keluarga, sahabat dan kerabat.

Korban merasa tak sanggup membayar cash sehingga terjadilag negoisasi menjadi Rp 500 Juta. Tapi, korban pun hanya mampu mengangsur Rp 5 juta secara bertahap.

Korban yang merasa resah dengan pemerasan dan intimidasi si pelaku, akhirnya melaporkan ke pihak berwajib.

Luki mengatakan, sejauh ini tercatat 8 orang yang menjadi korban pemerasan pelaku, namun baru 1 orang yang berani melapor.

Proses penyidikan masih berlanjut untuk mendalami apakah pelaku beraksi secara perorangan atau berkelompok.

Kini pelaku dikenai UU ITE dan KUHP tentang pemerasan. Luhur Pambudi

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved