Surabaya

Melihat dari Dekat Gramofon Rp 25 Juta dan Seri Uang Kuno Rp 125 Juta di Surabaya

Turntable ini bernilai Rp 25 juta, karena kuno tapi berfungsi baik. Lalu satu lagi, turntable tipe corong atau gramofon, dari tahun 1915

Melihat dari Dekat Gramofon Rp 25 Juta dan Seri Uang Kuno Rp 125 Juta di Surabaya
sudarma adi
Gramafon kuno dalam Soerabaia Heritage Festival di Pakuwon Trade Centre (PTC), Surabaya. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Beberapa orang tampak mengamati benda-benda antik yang ditata rapi di area atrium Pakuwon Trade Centre (PTC), Surabaya. Sesekali, mereka bertanya pada penjual terkait harga dan fungsional benda kuno itu.

Belasan penjual dan kolektor barang tempo doeloe memamerkan sekaligus menjual barang kuno yang mereka miliki dalam event Soerabaia Heritage Festival yang digelar hingga Minggu (25/11/2018) nanti.

Mereka yang sebagian dari Surabaya, Jogjakarta dan Jakarta itu memamerkan berbagai numismatik (uang kuno), filateli, hingga barang kuno yang berasal dari zaman penjajahan Belanda hingga awal kemerdekaan.

Seperti yang dilakukan penjual dan koleksi piringan hitam, vinyl dan gramofon (pemutar piringan hitam), Andi Respati. Pemilik Mahapatih Art and Antiques ini mulai suka dengan barang antik sejak 2002 lalu.

Dia menggemari piringan hitam, vinyl (piringan hitam plastik) dan gramofon, dengan membeli pada sesama penggemar barang antik. “Hobi awalnya memang beli barang antik. Tapi karena masih punya nilai jual, sebagian barang antik ini saya jual,” jelasnya di sela-sela pameran, Kamis (22/11/2018).

Ketika pameran ini berjalan, dia memiliki sekira 150 piringan hitam dan vinyl, serta lima gramofon dan turntable (pemutar piringan hitam). Untuk piringan hitam dan vinyl, kebanyakan berasal dari zaman penjajahan hingga kemerdekaan.

Namun ada pula piringan hitam kuno yang dimilikinya, berangka tahun 1916 dari Tio Tek Hong Record. Piringan hitam itu berisi lagu Melayu berjudul Stamboel Park dan Kopie Susu yang dibawakan Komedie Stamboel Batavia. “Itu piringan hitam tertua yang saya miliki. Piringan hitam ini bernilai Rp 500 ribu,” jelasnya.

Seri uang kuno dalam Soerabaia Heritage Festival di Pakuwon Trade Centre (PTC), Surabaya.
Seri uang kuno dalam Soerabaia Heritage Festival di Pakuwon Trade Centre (PTC), Surabaya. (sudarma adi)

Sedangkan untuk turntable, dia memiliki dua buah yang bernilai tinggi, karena keantikan dan masih berfungsi. Yang termahal adalah turntable dari tahun 1920 dan bermerek Tropical. Turntable ini masih asli, dimana bodi dari kayu asal Semarang dan mesin dari Swiss.

Turntable ini bernilai Rp 25 juta, karena kuno tapi berfungsi baik. Lalu satu lagi, turntable tipe corong atau gramofon, dari tahun 1915 dan bernilai Rp 20 jutaan. “Turntable ini dulu saya beli dari kolektor barang lawas,” urainya.

Selain piringan hitam dan vinyl, tak sedikit penjual di even itu yang jual beli uang kertas kuno. Seperti koleksi Joko Tianto.

Pria dari Jakarta ini memamerkan koleksi langka, yakni seri uang kertas Nederland Nieuw Guinea tahun 1950 dengan nominal 10, 25, 100, 500 gulden. Satu seri ini bernilai Rp 125 juta, karena kelangkaannya. “Ini memang jarang ada yang memiliki dan masih bagus,” katanya.

Ada pula uang kertas kuno yang jarang ada karena belum dipotong dan belum ada nomor seri. Uang kertas itu adalah uang Nederland NICA dari tahun 1943. Uang ini ada 8 seri yakni mulai nominal 50 cent sampai 100 gulden. “Karena langka dan bagus, maka ini bernilai Rp 110 juta,” urainya.

Sedangkan penjual uang kuno, Bagus Muhaimin dari Jogjakarta memilih menjual uang Nederland Indies seri Gubernur Jenderal JP Coen dari tahun 1928. Uang yang dijual itu hanya seri 100 gulden dan bernilai Rp 1 juta. “Nilainya kurang, karena kondisinya kurang bagus,” pungkasnya.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved