Rabu, 15 April 2026

Kabar Tuban

Makan Enthung atau Kepompong dari Sudut Pandang Dokter dan Pejabat Dinas Kesehatan

Selain memiliki kandungan protein yang tinggi yakni 15-20 persen, Enthung juga berkadar air 70-75 persen.

Penulis: Mochamad Sudarsono | Editor: yuli
mochamad sudarsono
Puluhan warga tampak berkerumun di hutan jati Desa Ngino, Kecamatan Semanding, Tuban, Senin (10/12/2018). Mereka sedang berburu kepompong ulat atau yang biasa disebut enthung di semak-semak kawasan hutan sekitar. 

SURYAMALANG.COM, TUBAN - Dokter Bambang Lukmantono ikut berkomentar terkait viralnya kepompong atau biasa disebut Enthung yang dijadikan makanan.

Dia menjelaskan mengenai kandungan yang ada pada Enthung.

Selain memiliki kandungan protein yang tinggi yakni 15-20 persen, Enthung juga berkadar air 70-75 persen, karbohidrat 10-15 persen, lemak jenuh dan tidak jenuh 2-5 persen .

"Untuk kandungan lemak tidak jenuh lebih tinggi dari lemak jenuhnya," ungkap BL sapaan akrab dokter umum itu kepada SuryaMalang.com, Selasa (11/12/2018).

dr Bambang Lukmantono
dr Bambang Lukmantono (facebook)

Selain zat-zat di atas, zat lain juga ditemukan pada hewan yang tumbuh di sekitar hutan jati itu, zat tersebut adalah mineral dan asam amino mulai 2-5 persen.

Kandungan zat ini akan berubah sesuai dengan cara memasaknya.

"Terkait mineral dan asam amino ini bisa berubah sesuai cara memasaknya. Namun yang diketahui masyarakat adalah Enthung mempunyai protein tinggi," Ungkap dokter yang berpraktik di jalan veteran itu.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan, Endah Nurul K menyatakan, karena berprotein tinggi, maka Enthung juga bisa menyebabkan alergi.

Reaksi alergi tiap orang berbeda sesuai dengan ketahanan tubuhnya. Bahkan, udang dan kerang yang biasa dimakan juga bisa menyebabkan alergi.

"Alergi berkaitan dengan daya tahan tubuh, memang protein tinggi bisa mempengaruhi gatal atau alergi," Bebernya

Sekedar diketahui, beberapa hari terakhir ini masyarakat Tuban banyak yang memburu Enthung.

Hewan tersebut selain untuk dimakan sendiri juga bisa dijual karena bernilai ekonomis. Harganya pun terbilang tidak murah, satu kilo gram bisa mencapai Rp 60 ribu.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved