Kabar Blitar

Pemilih Gangguan Mental IkutI Simulasi Tata Cara Pencoblosan Pemilu 2019 Di Kota Blitar

Sedikitnya ada 21 penyandang gangguan mental yang mengikuti simulasi tata cara pencoblosan Pemilu. Mereka datang dengan didampingi keluarganya.

Pemilih Gangguan Mental IkutI Simulasi Tata Cara Pencoblosan Pemilu 2019 Di Kota Blitar
suryamalang.com/Samsul Hadi
Petugas mendampingi penyandang gangguan mental yang ikut simulasi tata cara pencoblosan Pemilu 2019 di kantor Kelurahan Sananwetan, Kota Blitat, Rabu (19/12/2018 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Sejumlah penyandang tuna grahita atau gangguan mental di Kota Blitar yang menjadi calon peserta Pemilu 2019 mengikuti simulasi tata cara pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS), Rabu (19/12/2018). Simulasi tata cara pencoblosan bagi tuna grahita itu dilaksanakan di kantor Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar.

Sedikitnya ada 21 penyandang gangguan mental yang mengikuti simulasi tata cara pencoblosan Pemilu. Para penyandang gangguan mental datang dengan didampingi keluarganya.

"Sebenarnya ada 71 penyandang tuna grahita atau gangguan mental di Kecamatan Sananwetan, tapi yang hadir ikut simulasi hanya 21 orang," kata Komisioner Divisi Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kota Blitar, Ummu Chairu Wardani.

Sebelum mengikuti simulasi tata cara pencoblosan, para penyandang gangguan mental terlebih dulu mendapat pemeriksan kesehatan jiwanya. Di lokasi juga disiapkan tim medis untuk memeriksa kesehatan jiwa para penyandang gangguan mental.

Setelah mendapatkan pemeriksaan jiwa, mereka mulai mengikuti simulasi pencoblosan di TPS. Petugas KPU mengenalkan dulu surat suara ke para penyandang gangguan mental. Lalu, dengan didampingi keluarga, satu per satu para penyandang gangguan mental masuk ke bilik suara.

Mereka melakukan pencoblosan surat suara di bilik suara. Selesai mencoblos, para penyandang gangguan mental diarahkan memasukkan surat suara ke dalam kotak suara. "Sosialisasi pemilihan bagi penyandang gangguan mental memang beda," ujar Wardani.

Menurutnya, petugas harus sabar menjelaskan tata cara pemilihan ke para penyandang gangguan mental. Sosialisasi ke penyandang gangguan mental harus dilakukan secara berulang-ulang. "Cara menyampaikannya juga harus ceria. Kami menjaga kondisi mental mereka agar tetap stabil," katanya.

Seperti diketahui, calon pemilih dengan gangguan jiwa atau tuna grahita masuk calon pemilih disabilitas. Ada lima jenis pemilih disabilitas. Yaitu, tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita, dan disabilitas jenis lain. Lima jenis disabilitas itu memang masuk daftar pemilih tetap dalam pemilu.

Jumlah pemilih tuna grahita di Kota Blitar ada 110 orang. Rinciannya, di Kecamatan Kepanjenkidul ada 44 orang, Kecamatan Sananwetan ada 33 orang, dan di Kecamatan Sukorejo ada 33 orang. Sekarang, KPU mendata ulang jumlah pemilih tuna grahita itu. 

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved