Breaking News:

Kabar Surabaya

HMPG Jatim Optimistis Produksi Garam Nasional Akan Tumbuh, Untuk Menekan Garam Impor

Kebijakan impor garam industri yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 2,7 juta ton pada 2018 lalu terlalu besar.

suryamalang.com/Hanif Manshuri
Areal produksi garam di Brondong Lamongan yang cukup melimpah dampak musim kemarau panjang. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jatim optimistis produksi garam nasional tahun ini bisa tumbuh agar dapat mengurangi kuota garam impor.

Menurut Ketua HMPG Jatim, Muhammad Hasan, kebijakan impor garam industri yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 2,7 juta ton pada 2018 lalu terlalu besar.

"Padahal ada sisa 1,3 juta ton garam produksi nasional yang dapat digunakan oleh industri dan tergantung diprosesnya seperti apa," katanya, Kamis (17/1/2019).

Produksi garam nasional sepanjang 2018 lalu mencapai 2,9 juta ton tetapi yang terserap hanya 1,6 juta ton saja. Sehingga masih banyak sisa produksi yang sebenarnya dapat dialihkan ke industri.

"Kami berharap kebijakan impor garam tahun ini bisa turun, mengingat sepanjang tahun cuaca kemarau cukup bagus," katanya.

Ia menambahkan, dari segi kualitas, produksi garam nasional sebenarnya juga tak kalah jauh kualitasnya jika dibandingkan dengan kualitas garam impor.

Misalnya, kualitas garam rakyat Sumenep yang memiliki kadar NaCL mencapai 94,10 persen. Sementara, kadar garam impor yang selama ini masuk ke Indonesia, seperti Australia memiliki kadar NaCL 92,99 persen, India 91,04 persen.

"Saya yakin kalau sudah diproses, NaCL bisa penuhi seperti garam impor dan bisa digunakan oleh para industri," terangnya.

Pihaknya juga berharap, ke depannya program ekstensifikasi (perluasan) lahan oleh pemerintah bisa meningkat lagi selain dari memperbanyak bantuan alat teknologi kepada petani.

"Kemudian untuk jaga sistem tata niaga harusnya harga pokok penjualan (HPP) garam juga segera ditetapkan. Misal di Jatim, HPP garam berada di Rp 1.500 per kilogram untuk terendah. Sedangkan tertinggi Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per kilogram," tandasnya.

Editor: Achmad Amru Muiz
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved