Universitas Kanjuruhan Malang

Sengketa di Unikama - Kesaksian Dua Pegawai Bank saat Sidang di Pengadilan Negeri Sidoarjo

proses pengajuan pembukaan blokir rekening Yayasan PPLP PT PGRI Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) oleh terdakwa.

Sengketa di Unikama - Kesaksian Dua Pegawai Bank saat Sidang di Pengadilan Negeri Sidoarjo
m taufik
Kasus pemalsuan surat domisili dengan terdakwa Christea Frisdiantara kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Kamis (17/1/2019). Kali ini giliran dua pegawai bank yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang. Mereka adalah Agus, Pegawai Bank Cimb Niaga cabang Malang; dan Dwiyana, pegawai Bank Jatim cabang Malang. 

SURYAMALANG.COM, SIDOARJO - Kasus pemalsuan surat domisili dengan terdakwa Christea Frisdiantara kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Kamis (17/1/2019).

Kali ini giliran dua pegawai bank yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang. Mereka adalah Agus, Pegawai Bank Cimb Niaga cabang Malang; dan Dwiyana, pegawai Bank Jatim cabang Malang.

Di persidangan, mereka menceritakan proses pengajuan pembukaan blokir rekening Yayasan PPLP PT PGRI Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) oleh terdakwa.

Menurutnya ada kejanggalan dari surat keterangan domisili yang diserahkan untuk pengajuan pembukaan blokir. Kejanggalan itu ada pada tujuan permohonan. "Surat domisili itu tujuannya digunakan untuk permohonan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) Bank BRI Syariah," kata Agus.

Mengetahui itu lantas pihaknya berkoordinasi dengan pengurus yayasan, yakni pihak Soedja'i. "Saya sampaikan ke pak Soedja'i. Selanjutnya kami tidak tahu apa-apa. Baru tahu kalau sampai ke ranah pidana setelah mendapat panggilan polisi," sebut dia.

Tak jauh beda yang disampaikan saksi Dwiyana, pegawai Bank Jatim cabang Malang.  Hanya saja, pihak Bank Jatim hingga saat ini masih memblokir rekening tersebut karena permintaan dari dua kubu. Sementara di Bank Cimb Niaga, pemblokiran rekening itu sudah dibuka.

Namun saat ditanya terkait surat domisili itu apakah palsu atau tidak, keduanya kompak menjawab tidak tahu. Mereka sama-sama mengaku tidak tahu surat domisili itu asli atau palsu.

Dalam perkara ini, pokok persoalannya adalah surat domisili palsu. Karenanya, B Sunu selaku kuasa hukum terdakwa menyebut kesaksian itu masih ambigu. "Masih ambigu kesaksian pegawai bank itu," ucapnya.

Salah satunya adalah keterangan bahwa pihak Bank Cimb Niaga telah membuka blokir rekening itu meskipun sampai saat ini masih dalam sengketa. "Kan itu harus menunggu ketetapan hukum tetap. Nah sekarang kan masih tingkat Kasasi," tukasnya.

Dalam perkara ini, terdakwa Christea dianggap telah menggunakan surat keterangan domisi palsu. Awalnya surat itu untuk kepentingan pengajuan kredit perumahan rakyat (KPR), yakni rencana membeli rumah milik Puguh yang berada di Perum Magersari, Sidoarjo.

Untuk memperoleh surat keterangan domisili itu, terdakwa menguasakan kepada Puguh, yang menjanjikan bisa menguruskan karena memiliki kenalan seorang pengacara bernama Julianto Darmawan.

Pengurusan surat domisili itu untuk meyakinkan bank bahwa terdakwa benar warga Kelurahan Magersari, Sidoarjo. Padahal, terdakwa warga Malang.

Setelah surat jadi, surat domisili tersebut digunakan untuk mengajukan permohonan pengubahan tanda tangan, speciment bank dari PPLP PT PGRI versi Soedja'i menjadi tanda tangan Christea Frisdiantara di PN Sidoarjo.

Selanjutnya dipakai untuk membuka pemblokiran bank, yang sudah diblokir oleh pengurus lama. Ketika dipakai mengajukan pembukaan pemblokiran, semua itu terdengar Sudjai dan kemudian dikroscek ke Luar Magersari serta ke PN Sidoarjo.

Dari sana, lantas Lurah Magersari melapor ke polisi lantaran merasa tidak pernah membuat surat domisili tersebut. Dari laporan itu, kasus inipun berlanjut. Christea ditahan polisi dan sekarang masih proses sidang di PN Sidoarjo.

Penulis: M Taufik
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved