Jalan Gubeng Surabaya Ambles

Inilah Enam Tersangka Terkait Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya

Polda Jatim menetapkan enam tersangka terkait terkait kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng Kota Surabaya.

Inilah Enam Tersangka Terkait Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya
Mohammad Romadoni
Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan berdama Dirreskrimsus Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan membeberkan barang bukti kasus penyebab jalan Gubeng ambles. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA -  Kepolisian Daerah Jawa Timur menetapkan enam tersangka yaitu penanggung jawab pengembang proyek PT NKE Nusa Konstruksi Enjiniring TBK dan PT Saputra terkait kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng Kota Surabaya.

Kapolda Jawa Timur mengatakan
adapun enam tersangka jalan Gubeng ambles yaitu inisial BS sebagai Dirut PT NKE, RW sebagai project dari PT NKE dan AP manager PT NKE.

Tersangka RH sebagai project PT Saputra Karya, LAH sebagai Struktur Engineering Supervisor PT Saputra Karya dan AK supervisor PT Saputra Karya (berdasarkan perjanjian kerja waktu tertentu).

"Surat pemanggilan terhadap tersangka dilayangkan hari Senin pekan depan," jelas Kapolda Jatim di Mapolda Jatim, Rabu (23/1/2019).

Luki menjelaskan adapun penyebab amblesnya jalan Gubeng yaitu gagal teknis pembangunan MUD di lokasi proyek basement. Hal itu menyebabkan ketidakmampuan dinding penahan tanah yang dibor (Soldier Pile) sebelah timur menahan beban daya dorong atau tekanan lateral massa tanah. Penyebabnya juga karena faktor kedalaman galian basement terhadap dinding penahan tanah (Soldier Pile).

"Faktor existing muka air tanah yang tinggi juga dapat mengurangi stabilitas dinding penahan sehingga menyebabkan jalan raya di depan Bank BNI dan toko elizabeth longsor (Ambles," ungkapnya.

Kapolda Jatim mengungkapkan penetapan enam tersangka ini merupakan dari penyidikan 41 saksi yang berkaitan pembangunan proyek basement.

Pihaknya juga memperkuat dengan keterangan lima saksi ahli yaitu ahli Geoteknik forensik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Geoteknik forensik dari Universitas Tarumanegara, ahli manajemen kontruksi forensik dari LPJK, ahli hukum pidana Universitas Bhayangkara Surabaya dan Labfor Mabes Polri cabang Surabaya.

Adapun barang bukti yaitu surat dokumen perizinan proyek pembangunan basement dan gedung bertingkat, alat Dewatering, alat recarging, sample tahah, pompa air, Core Drill (Capping Beam dan Soldier Pile), Ground Achour dan kunci ground Achour.

"Pasal yang disangkakan yaitu Pasal 192 ayat 1 jo 55 KUHP dan pasal 63 ayat 1 UU Nomor 38 tahun 2004 tentang jalan tentang tindak pidana sengaja membuat tidak dapat dipakai bangunan jalan untuk lintas umum sehingga membahayakan dan senjaga melakukan kegiatan yang menganggu fungsi jalan," ungkap Luki.

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved