Malang Raya

Ini Pendapat Pakar Universitas Brawijaya (UB) Soal RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT)

Tiga pakar Universitas Brawijaya (UB) Kota Malang memberikan pendapat mengenai RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT)

Ini Pendapat Pakar Universitas Brawijaya (UB) Soal RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT)
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Suasana FGD RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di UB Guest House, Selasa (29/1/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Tiga pakar Universitas Brawijaya (UB) Kota Malang memberikan pendapat mengenai RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang jadi bahasan di FGD di UB Guest House, Selasa (29/1/2019).

Pakar Biothermal dari FMIPA UB, Sukir Maryanto PhD menyatakan RUU sudah bagus.

“Tapi perlu dirinci lagi nanti mengenai EBT lebih detil. Misalkan soal panas bumi atau biothermal dll,” jelas Sukir kepada SURYAMALANG.COM di sela acara.

Sebab potensi Indonesia cukup kaya. Ada 40 persen potensinya. Dari 40 persen itu, sebanyak 80 persennya ada di daerah vulkano.

Ia berharap nantinya disikapi bijak potensi itu.

“Jangan lupakan aspek bencananya. Sehingga selain memanfaatkan SDA juga ada analisa risiko bencananya,” papar Sukir.

Itu yang perlu ditambahkan di RUU itu. Dikatakan EBT memang high cost dan high tech. Namun tetap harus dipikirkan masalah EBT.

“Juga SDM-SDM biothermal juga harus disiapkan,” katanya.

Ia mencontohkan saat ada bencana di Aceh baru dipikirkan mengenai kurangnya SDM biothermal.

Ditambahkan Sukir, EBT bipthermal bisa dipakai untuk skala kecil di lokasinya.

Halaman
12
Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved