Breaking News:

Kabar Tuban

Reaksi Pertamina soal Ribuan Orang Tuban Demo Tolak Pembangunan Kilang Minyak Pertamina Rosneft

Ribuan orang dari enam desa di Kecamatan Jenu unjuk rasa menolak pembangunan kilang minyak Pertamina Rosneft ke gedung DPRD Tuban, Selasa (29/1/2019)

Penulis: Mochamad Sudarsono | Editor: yuli
Mochamad Sudarsono - SuryaMalang.com
Tuban bergolak. Ribuan orang dari enam desa di Kecamatan Jenu unjuk rasa menolak pembangunan kilang minyak Pertamina Rosneft ke gedung DPRD Tuban, Selasa (29/1/2019) pagi. 

SURYAMALANG.COM, TUBAN - Tuban bergolak. Ribuan orang dari enam desa di Kecamatan Jenu unjuk rasa menolak pembangunan kilang minyak Pertamina Rosneft ke gedung DPRD Tuban, Selasa (29/1/2019) pagi.

Mereka berasal dari: 

1. Desa Wadung Kecamatan Jenu

2. Desa Sumurgeneng Kecamatan Jenu

3. Desa Rawasan Kecamatan Jenu

4. Desa Kaliuntu Kecamatan Jenu

5. Desa Remen Kecamatan Jenu

6. Desa Mentoso Kecamatan Jenu

Menanggapi hal itu, Manager Communication dan CSR Marketing Operation Region (MOR) V, Rustam Aji mengatakan, terkait dengan penyampaian aspirasi yang dilakukan sejumlah warga itu merupakan dinamika yang wajar.

Pembangunan kilang masih tahap awal, yakni sosialisasi. Masih ada tahapan lanjutan yang lebih panjang. Misalnya negosiasi lahan, studi AMDAL, dan sebagainya.

"Saya kira itu dinamika yang wajar," ujar Rustam dikonfirmasi SuryaMalang.com atas aksi penolakan warga terhadap pembangunan kilang minyak.

Dia menjelaskan, kilang yang akan dibangun di Tuban adalah program strategis nasional. Kilang tersebut diharapkan bakal menjadi penopang pemenuhan kebutuhan energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Pembangunan kilang nantinya bisa mengurangi impor BBM, sehingga akan mengurangi ketergantungan pada negara lain untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Untuk memenuhi kebutuhan BBM tanah air, Pertamina ditopang oleh sejumlah kilang. Sedangkan kilang paling muda yang dimiliki Pertamina dibangun pada 1994 di Balongan, Indramayu.

"Selama kurun waktu 25 tahun ini belum membangun kilang baru, termuda ya di Balongan Indramayu," Bebernya.

Menurutnya, memang tidak menutup kemungkinan adanya dampak dari kilang tersebut, tapi dari pengalaman di beberapa daerah yang memiliki kilang, manfaat positifnya yang dirasakan masyarakat lebih besar.

Tidak hanya penyediaan lapangan kerja baru dan peningkatan PAD untuk pembangunan. Namun termasuk dampak multiplayer efek, seperti usaha-usaha jasa penunjang, katering atau kuliner, laundry, pelatihan, penginapan, dan lain-lain.

"Berdasarkan pengalaman memang banyak manfaat positifnya, meski ada dampak lainnya," Terangnya.

Ditambahkannya, berkaitan dengan penetapan lokasi (penlok) itu bukan kewangan perusahaan, melainkan kewenangan pemerintah provinsi dalam hal ini pemprov jatim.

Penlok lokasi terbaru ditandatangani oleh Gubernur Jatim sesuai keputusan gubernur, yang berdasarkan Perpres nomor 30 tahun 2015 Tentang penyelenggaraan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.

"Penlok bukan dari perusahaan, tapi dari Pemprov Jatim," Pungkas Rustam. 

Sekadar diketahui, pembangunan kilang minyak Pertamina-Rosneft awalnya ditempatkan di Desa Remen dan Mentoso, namun karena pembebasan lahan alot kini dialihkan di empat Desa, yaitu Wadung, Kaliuntu, Sumurgeneng dan Rawasan.

Pada rencana awal, lahan yang dibutuhkan sekitar 548 hektar, meliputi lahan 348 hektar milik KLHK dan 200 hektar milik warga Remen dan Mentoso.

Namun pada rencana yang baru ini, lahan yang dibutuhkan 841 hektar, yang terdiri milik KLHK 348 hektar dan 493 hektar milik warga empat Desa.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved