Universitas Kanjuruhan Malang

Sengketa di Unikama - Saksi Ahli Sebut Surat Palsu Harus Dikuatkan Uji Labfor

Saksi ahli dalam sidang kasus pemalsuan surat domisili dengan terdakwa Christea Frisdiantara di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Selasa (29/1/2019).

Sengketa di Unikama - Saksi Ahli Sebut Surat Palsu Harus Dikuatkan Uji Labfor
suryamalang.com
Terdakwa kasus pemalsuan surat domisili Christea Frisdiantara saat di PN Sidoarjo. 

SURYAAMLANG.COM, SIDOARJO - Untuk mengetahui surat palsu atau tidak harusnya ada hasil uji laboratorium forensik (labfor) yang dilampirkan sebagai alat bukti.

Dengan begitu, tanda tangan dalam surat bisa diketahui identik atau tidaknya. Dan jika belum diuji labfor, maka bisa dikatakan alat bukti belum sempurna.

Demikian kata ahli hukum pidana Doktor Prija Djatmika saat dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang kasus pemalsuan surat domisili dengan terdakwa Christea Frisdiantara di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Selasa (29/1/2019).

"Harusnya ada uji forensik dulu. Dan jika dalam BAP tidak dilampirkan, jaksa bisa mengembalikan berkas ke penyidik dengan petunjuk untuk melampirkan hasil labfor dalam BAP," ujar Pria Djatmika.

Dalam keterangannya, saksi ahli juga menyatakan bahwa perkara kasus pemalsuan surat domisili itu dinilai substansinya tidak sesuai peruntukan, sehingga surat tersebut dinilai palsu.

Dia juga berpendapat surat keterangan domisi itu seharusnya orang yang bersangkutan bertinggal di domisi tersebut. "Misalnya saya asli bertempat tinggal di Malang, lalu saya minta surat domisili di Madiun padahal saya tidak pernah tinggal di sana, apa boleh itu. Jelas tidak boleh," ungkap dia.

Pada akhir persidangan, JPU kejari sidoarjo hanya menegaskan dan menunjukan terkait surat domisili soal perbuatan pidana. Dengan tegas ahli menjawab itu ada pidananya karena tidak sesuai substansinya.

Namun ketika ditanya B Sunu, pengacara terdakwa, terkiat kelengkapan alat bukti hasil Labfor, saksi juga menegaskan bahwa seharusnya itu dilampirkan.

Dalam perkara ini, Christea didakwa menggunakan surat keterangan domisi palsu. Dia melalui orang lain mengajukan surat domisili ke Kelurahan Magersari untuk kepentingan pengajuan kredit rumah.

Setelah surat domisili jadi, ternyata dipakai untuk mengajukan permohonan pengubahan tanda tangan, speciment bank dari PPLP PT PGRI versi Soedja'i menjadi tanda tangan Christea Frisdiantara di PN Sidoarjo. Selanjutnya untuk membuka pemblokiran rekening bank.

Pihak Sudjai kemudian klarifikasi ke Lurah Magersari Moch Arifin. Setelah dinyatakan tidak pernah mengeluarkan surat itu, Arifin melaporkan kasus ini ke Polresta Sidoarjo. Sampai sekarang kasus masih proses sidang di PN Sidoarjo.

Penulis: M Taufik
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved