Selasa, 16 Juni 2026

Kabar Surabaya

Kisah Bos Kopi Kapal Api Pernah jadi Kernet Bemo dan Buruh Kerok Ban Bekas

Soedomo Mergonoto, bos kopi cap Kapal Api: Saya juga pernah jadi kernet bemo. Pejabat-pejabat itu nggak percaya saya pernah jadi kernet.

Tayang:
Editor: yuli
Hefty's Suud
Soedomo Mergonoto, bos pabrik kopi Kapal Api, dalam acara bertajuk Energi DI's Way, merayakan satu tahun blog pribadi Dahlan Iskan di DBL Academy Pakuwon Mall, Surabaya, Sabtu (9/2/2019). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Soedomo Mergonoto, bos kopi cap Kapal Api, berkata begini:

"Saya juga pernah jadi kernet bemo. Pejabat-pejabat itu nggak percaya kalau saya bilang pernah bekerja sebagai kernet. Pernah saya dites, saya praktikkan, Wonokromo... Wonokromo rong atus. Kalau sudah sampai Wonokromo, ganti, Jembatan Merah, Jembatan Merah, rong atus."

Rong atus maksudnya Rp 200. Itu tarif bemo pada masa muda Soedomo Mergonoto, satu dari banyak anak Go Soe Loet asal Tiongkok yang merantau ke Surabaya era 1920-an. 

Ya, Soedomo membesarkan Kapal Api seperti sekarang dengan jalan yang berliku. Ayahnya memang merintis usaha dagang kopi tetapi Soedomo juga mendirikan perusahaan terpisah. 

Soedomo didaulat mengisahkan usahanya pada acara perinhatan setahun blog disway.id milik Dahlan Iskan di lapangan DBL Academy Pakuwon Mall Surabaya, Sabtu (9/2/2019).

"Sekarang ini kan sedang banyak anak-anak muda, bahkan orang sesusia saya yang ingin membuka bisnis kopi. Boleh tidak dibagikan rahasia suksesnya Kapal Api?" ujar Dahlan di atas panggung kepada Soedomo.

Soedomo pun menyahut, seorang pengusaha sukses, belum tentu mendapatkan kesuksesannya secara mudah. Ia pun berpesan, jangan melihat pengusaha sukses di masa suksesnya saja.

Lalu ia bercerita, Kapal Api dimulai sejak tahun 1927. Ayah Soedomo menjual kopi panggul berjalan dari Jalan Panggung menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Bisnis kopi itu dimulai dari rumah keluarganya di Kampung Panggung Gang 5, Surabaya.

Usaha tersebut terbilang kecil, orangtua Soedomo memintanya untuk bekerja satu tahun di perusahaan vuklanisir ban. Di sana, ia bertugas mengerok ban-ban bekas.

Satu tahun berlalu, Soedomo kembali ke orangtuanya dan membantu berjualan usaha kopi milik keluarganya. Ia mengaku berkeliling menjajakan kopi dengan mengayuh sepeda onthel.

Mengenai pekerjaannya sebagai kernet bemo, Soedomo melakukannya pada Sabtu dan Minggu atau sepulang kerja bersama teman-temannya.

Ia menggapnya seolah berjalan-jalan naik mobil pribadi.

Pengalaman hidupnya itu, diakui Soedomo menjadi sesuatu yang mendorongnya untuk terus bekerja keras dan menjadi sukses.

Tahun 1978, menurutnya belum banyak orang-orang berpikir mengenai iklan. Namun Soedomo sudah berencana membuat iklan kopi, menggandeng salah seorang pelawak di masa itu, bernama Paimo.

"Waktu itu saya bikin iklan TV, pakai bahasa khasnya Paimo. Yo iki kopi, lebih enak rasanya," ujar Soedomo.

Alasannya membuat iklan saat itu, sekaligus merupakan responnya terhadap lingkungan sekitar. Sebelum beriklan, Soedomo berinovasi membuat kopi dalam kemasan.

"Waktu itu orang jual sabun, kalau mau beli itu dipotong sesuai belinya berapa rupiah. Tapi kok ada salah satu merk, ngeluarkan sabun dalam kemasan. Akhirnya saya juga buat kopi dalam kemasan 100 gram, dijual Rp 100," kata Soedomo. 

Dengan inovasi tersebut dan idenya membuat iklan, bisnis kopi keluarganya meningkat lumayan pesat.

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
2 - 2
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved