Malang Raya

Mengintip Cara Kerja Admin Grup Facebook Komunitas Peduli Malang Raya

Andik Supriyanto, pendiri Komunitas Peduli Malang Raya (KPMR), melarang posting yang mengandung unsur SARA, kampanye, politik dan ujaran kebencian.

Mengintip Cara Kerja Admin Grup Facebook Komunitas Peduli Malang Raya
facebook/KomunitasPeduliMalangRaya
KOMUNITAS PEDULI MALANG RAYA 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Media sosial (medsos) kini menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam mendapatkan informasi.

Hal itu bisa dilihat dari banyaknya forum-forum atau wadah masyarakat yang tersebar di jejaring sosial seperti Facebook.

Di sana masyarakat bebas untuk memposting atau membagikan informasi ke dalam forum yang biasa disebut dengan grup tersebut.

Tetapi setiap grup mempunyai peraturan-peraturan tersendiri yang harus di dipatuhi oleh anggotanya.

Seperti halnya grup Facebook Komunitas Peduli Malang Raya (KPMR).

Mengintip Cara Kerja Admin Grup Facebook Komunitas Peduli Asli Malang dalam Menanggulangi Hoax

Di sana ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh anggotanya.

Andik Supriyanto, pendiri KPMR mengatakan, bahwa di dalam grup KPMR dilarang untuk mengunggah materi teks, foto maupun video yang mengandung unsur SARA, kampanye, politik dan ujaran kebencian.

Hal itu dilakukan agar suasana grup menjadi kondusif dan grup tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperoleh informasi.

"Grup ini sifatnya sosial dan entertain, jadi di dalam grup ini tidak ada filter, para anggota bisa langsung memposting apapun asal sesuai dengan aturan yang telah berlaku di dalam grup," ucapnya.

Andik mengaku, di balik grup KPMR ada 20 admin yang bekerja 24 jam untuk mengecek setiap postingan yang dilakukan oleh para anggota.

Pengecekan tersebut dilakukan untuk melihat postingan yang tidak sesuai dengan aturan grup.

"Jadi kami mempunyai dua sistem dalam pengecekan, yang pertama itu kita menunggu laporan dari para anggota jika mengetahui postingan yang mengandung unsur SARA ataupun kampanye ataupun hal-hal yang negatif lainnya. Kedua kami melakukan secara manual melalui keyword," ujarnya.

Dalam sejam, Andik mengaku telah menerima 50 laporan yang dilaporkan oleh anggota.

Namun ia tetap menyeleksi terlebih dahulu sebelum menghapus laporan-laporan tersebut.

"Bayangkan saja, anggota kami sekarang ada 590 ribu orang, maka wajar saja kalau per jam ada sekitar 50 laporan yang masuk dan perbulan mencapai 12 juta postingan, tanggapan dan komentar," ucapnya.

Sementara itu, dalam menanggapi para anggota yang memposting tidak sesuai dengan aturan grup akan dikenai sanksi.

Sanksi itu merupakan pemblokiran anggota sementara dari Grup KPMR.

"Dalam aturan kami, para admin dilarang untuk mengeluarkan anggota dari grup. Tapi kami hanya memperbolehkan memblokirnya saja. Sifatny itu pun hanya sementar sekitar seminggu saja. Hal itu dilakukan agar mereka tidak mempostingan postingan secara berulang," jelas Andik

Tujuannya dibuat grup KPMR untuk menciptakan hiburan yang murah meriah bagi masyarakat.

Walaupun begitu, Andik mengaku ada saja orang yang merasa bahwa di grup KPMR ini yang posting merupakan orang-orang yang tidak penting.

"Bagi orang kecil, hiburan atau guyonan di grup sangatlah menghibur. Namanya peduli itu bukan hanya aksi ke panti asuhan, namun membuat orang lain tertawa adalah bentuk kepedulian dari aspek psikologis, walaupun masih ada orang yang mengaggap bahwa guyonan itu tidak berfaedah," ucapnya.

Selain mengurusi grup Facebook, KPMR juga mempunyai kegiatan sosial yakni dengan membangun rumah-rumah warga yang tak layak huni.

Mereka bekerja sama dengan beberapa komunitas lain dalam menjalankan misi sosial tersebut.

"Kegiatan kami yang kemarin kami lakukan ialah membangun sebuah rumah di daerah Turen. Kami banyak berkolaborasi dengan komunitas dalam kegiatan ini, seperti Turen Bersatu, Padma Digdaya, Relawan Semut dan lain sebagainya," jelasnya.

Saat ditanya mengenei dana yang dianggarkan itu, Andik mengaku mendapatkan dana tersebut dari para donatur, admin, para anggota KPMR.

Kata andik, donatur terbesar KPMR merupakan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri.

"Pemilihan rumah yang tak layak huni itu biasanya di survei oleh tim kami yang sudah terpercaya, maupum dari aktifis ataupun anggota KPMR itu sendiri. Kami akan turun ke lokasi, kami cek upload dan kirim mobilisasi bantuan," tandasnya.

Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved