Kabar Gresik

Pengalaman Gadis Gresik Menghadiri Forum Perdamaian Dunia di Pyeongchang, Korea Selatan

Diah Sulung Safitri asal Gresik pulang ke tanah air setelah menghadiri acara Pyeongchang Global Peace Forum (PGPF) 2019 di Korea Selatan,

Pengalaman Gadis Gresik Menghadiri Forum Perdamaian Dunia di Pyeongchang, Korea Selatan
dok pribadi
Diah Sulung Safitri asal Gresik saat berada di Global Peace Forum (PGPF) 2019, Korea Selatan. 

SURYAMALANG.COM - Tiga hari yang lalu, Diah Sulung Safitri asal Gresik pulang ke tanah air setelah menghadiri acara Pyeongchang Global Peace Forum (PGPF) 2019 di Korea Selatan, Rabu (13/2/2019).

Setelah mengikuti proses seleksi yang dinilai berdasarkan pengalaman serta komitmen individu terhadap isu perdamaian dunia, Diah akhirnya diundang dalam forum perdamaian dunia itu. Acara tersebut berlangsung sejak 9 Februari.

Diah mengaku sudah lebih dari 4 tahun bergelut di isu kepemudaan dan berkontribusi terhadap perdamaian dunia.

“PGPF adalah peringatan satu tahun penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018. Event olahraga yang begitu menyedot perhatian dunia karena untuk pertama kalinya tim olahraga Korea Selatan dan Korea Utara bersatu di bawah 1 bendera kesatuan (unification flag),” Diah menjelaskan.

Dalam helatan event olah raga tersebut, Diah tidak hanya menjadi peserta. Ia bercerita, dirinya bahkan berkesempatan menyampaikan pandangannya mewakili anak muda di Indonesia dihadapan 120 peserta forum yang datang dari seluruh dunia.

“Intinya, dalam materi yang saya sampaikan itu, saya ingin menegaskan bahwa anak muda punya perannya sendiri dalam mewujudkan perdamaian dunia. Di Indonesia, jumlah anak mudanya mendominasi 71% dari keseluruhan populasi masyarakat. Jumlah yang begitu besar," cerita gadis kelahiran 1994 itu.

Lanjutnga, anak muda kaya ide dan energi. Jadi, jika 71% pemuda Indonesia secara merata didorong untuk memaksimalkan potensinya, maka begitu banyak karya yang bisa dihasilkan untuk mendukung pembangunan nasional.

Menurutnya, apabila pembangunan lancar, maka stabilitas politik, ekonomi dan keamanan dalam negeri terjamin. Di situlah peran besar anak muda dalam agenda perdamaian dunia dapat terlihat.

Diah pun menuturkan bagaimana cara mengeluarkan ide dan potensi anak-anak muda. Yaitu akses pendidikan, baik formal maupun vokasional, secara merata harus menjadi kunci. Tidak boleh ada pembedaan antara kualitas pendidikan dan pelatihan yang didapatkan anak muda di kota dan di desa.

"Anak muda yang ada di pelosok pedesaan juga harus diperkaya dengan pelatihan-pelatihan kewirausahaan sehingga mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan roda ekonomi desa sesuai bidang mereka masing-masing," Diah memaparkan.

Selain itu, Diah pun bercerita, ia bersama seluruh peserta juga diajak untuk melihat langsung perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara di area Zona Demiliterisasi, terutama Observatorium Gunung Geumgang dan DMZ Museum.

Di Observatorium Gunung Geumgang, peserta PGPF 2019 berkesempatan bertemu dengan tentara Korea Selatan yang berjaga di perbatasan dan dijelaskan bentang alam antara Korsel dan Korut.

“Sebagai anak muda satu-satunya perwakilan Indonesia, saya senang bisa mengetengahkan posisi anak muda dalam forum tersebut. Dalam konflik, anak muda bisa menjadi korban namun juga bisa menjadi agen perdamaian. Kita harus selalu mendorong anak muda sebagai pemimpin-pemimpin yang bermoral dan penuh inovasi demi mewujudkan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya. Hefty's Suud

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved