Kabar Trenggalek

Kisah Pembantai Penyu jadi Pegiat Konservasi Penyu di Pantai Kili-kili, Trenggalek

Yudi Sudarmanto (47) yang akrab dipanggil Sigit baru saja merapikan hamparan pasir laut di Pantai Kili-kili, Desa Wonocoyo Kecamatan Panggul, Kabupate

Penulis: David Yohanes | Editor: yuli
David Yohanes - SuryaMalang.com
MEMERIKSA PENYU – Sigit (berkaus hitam) tengah memeriksa penyu yang dipelihara untuk kepentingan edukasi di Pusat Konservasi Penyu Taman Kili-kili di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Trenggalek. Sigit dulunya adalah pemburu penyu, namun kini menjadi relawan di tempat konservasi ini. 

SURYAMALANG.COM, TRENGGALEK - Yudi Sudarmanto (47) yang akrab dipanggil Sigit baru saja merapikan hamparan pasir laut di Pantai Kili-kili, Desa Wonocoyo Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek.

Hamparan pasir itu adalah tempat ribuan telur penyu ditanam dan menunggu menetas.

Sigit adalah satu dari lima orang yang aktif di Pusat Konservasi Penyu Taman Kili-kili, yang dirintis akhir
2010. Ia berkisah, dulunya adalah pembantai penyu. Setiap ada penyu yang naik ke darat, Sigit akan
menangkapnya dan dibawa pulang untuk dijual.

“Kata orang-orang, dagingnya sangat enak mengalahkan daging sapi. Sementara telurnya juga laku
dijual, karena proteinnya tinggi,” kenang Sigit, saat ditemui di tempat kerjanya.

Ayah satu anak ini mengungkapkan, selain Pantai Kili-kili, dua pantai yang saling terhubung, Pantai
Konang dan Pantai Pelang dulunya adalah tempat pendaratan penyu untuk bertelur. Namun karena
sering diburu dan semakin ramainya wisatawan, jumlah penyu menurun drastis. Kini hanya Kili-kili yang
menjadi lokasi pendaratan penyu.

Berburu induk penyu adalah alternatif pendapatan bagi warga desa setempat. Sebab satu ekor penyu
bisa dijual antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Satu induk minimal membawa minimal 100 butir telur.

“Kalau 100 butir, maka dapatnya sudah Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Padahal kadang bisa sampai 200
butir telur,” ungkap Sigit.

Namun sikap Sigit berubah setelah aktivis Pusat Konservasi Penyu Taman Kili-kili, memberikan
pengertian pentingnya penyu bagi kelangsungan laut. Ternyata penyu adalah hewan laut yang
dilindungi, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Sigit pun berubah, dari seorang pemburu penyu kini menjadi sosok yang melindungi penyu.

Setiap hari Sigit berpatroli di wilayah garis pantai sepanjang 1,5 kilometer. Setiap kali ada telur penyu
segera diambil, dan dipindah ke lokasi penetasan. Perubahan perilaku Sigit juga terjadi di warga di
sepanjang Pantai Kili-kili.

“Sekarang warga sudah sadar semua, sudah tidak ada yang mengambil penyu yang mendarat. Kalau ada warga yang melihat penyu bertelur, pasti langsung telepon kami,” ucap Sigit.

Sigit bagaikan penjaga gawang di taman konservasi penyu ini. Setiap hari ia bersiaga di tempat
konservasi ini. Termasuk memberi makan sejumlah penyu yang sengaja dipelihara, untuk tujuan
edukasi.

Sigit pula yang menyiapkan tempat penetasan penyu. Jika sewaktu-waktu ada gangguan ombak, Sigit
yang menjadi ujung tombak untuk memindahkan ribuan telur ke tempat yang aman. Kini Kili-kili telah
menjadi barometer konservasi penyu di Jawa Timur.

Tahun 2012 ada 38 induk penyu yang bertelur di Taman Kili-kili, dan menghasilkan 3.323 telur. Dari
jumlah itu, sebanyak 2.524 telur menetas atau setara 75,96 persen. Tahun 2013 ada 52 induk dengan
4.074 telur, dan menetas 3.302 atau setara 81.05 persen.

Tahun 2014 ada 35 induk dengan 3.444 telur, dan menetas 1.496 atau setara 43.44 persen. Tahun 2015
ada 27 induk dengan 2.209 telur, dan metetas 1.549 atau setara 70,12 pesen. Tahun 2016 ada 54
indukan dengan 3.148 telur, dan menetas 3.148 atau setara 65.45 persen.

Tahun 2017 ada 46 induk dengan 3.201 telur, dan tingkat penetasan mencapai 99 persen. Tahun 2018
ada 71 indukan dan menghasilan lebih dari 6000 telur, dengan tingkat penetasan 99 persen.

PETA - Pantai Kili-kili, Desa Wonocoyo Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved