Kabar Surabaya

Antisipasi Banjir, Khofifah Minta Bantuan Kementerian PUPR Adopsi "Bopuncur" Ke Jatim

Khofifah telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyiapkan kajian pembangunan di daerah rawan bencana

suryamalang.com/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa naik perahu menuju Pondok Pesantren Wisma Wisnu di Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun yang sedang terendam banjir. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyiapkan program preventif untuk antisipasi bencana alam di Jatim. Demi melakukan hal itu, Khofifah telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyiapkan kajian pembangunan di daerah rawan bencana dalam jangka panjang.

"Kedepan, kami akan berkoordinasi dengan dirjen Sumber Daya Air dan dirjen Bina Marga. Kami juga telah menelepon Menteri PU-Pera. Kami meminta tolong tim beliau untuk memberikan exercise secara permanen, strategis, jangka panjang di Jatim," kata Khofifah ketika ditemui di Gedung DPRD Jatim, Jumat (8/3/2019).

Pihaknya, ungkap Khofifah, telah memetakan beberapa wilayah yang berpotensi banjir. Di dalam kasus banjir beberapa waktu terakhir, pihaknya baru melakukan beberapa langkah penyelesaian jangka pendek.

Misalnya, dengan menggunakan sandbag (karung pasir) dan bronjong sebagai tanggul darurat. "Di hulu ada titik kali dari Bengawan Solo, Kali Madiun, kali jeroan, ada beberapa tangul yang jebol," katanya.

"Untuk tanggul yang jebol, pihak BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Bengawan Solo kami minta melakukan penanganan dalam jangka pendek. Tiga jam alat berat milik mereka datang. Mereka membawa sandbag. Dari sandbag itu diberikan bronjong," urai Gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Namun, hal itu tidaklah cukup. Dalam waktu jangka panjang, pihaknya menyiapkan plengsengan. "Namun, jangka panjangnya bisa dibuat plengsengan. Saat ini sedang mengukur panjangan plengsengan. Kalau soal bronjong atau sand bag sekitar 500-600 meter," katanya.

Selain plengsengan, Khofifah memiliki ide untuk mengadopsi antisipasi rawan banjir di kawasan Bogor, Puncak Cianjur di Jawa Barat. Kawasan ini merupakan wilayah wisata sekaligus kawasan resapan air untuk antisipasi banjir di Jawa Barat hingga Jakarta.

"Saya berharap ada semacam Bopuncur. Ini menjadi solusi yang benar-benar solutif, strategis, permanen," kata Khofifah.

Selain itu, Khofifah juga melakukan kajian untuk membuat sudetan di kawasan Bengawan Solo. "Saya tadi berkomunikasi dengan Kementerian PU Pera. Misalnya, soal sudetan Bengawan Solo. Bagaimana RTRW (Rencana Tata Ruan Tata Wilayah)-nya. Sehingga, kalau intensif hujan tinggi, luapannya tidak jadi banjir besar," urai mantan Menteri Sosial RI ini.

Tak hanya di kawasan Sungai Bengawan Solo, pihaknya juga menggandeng Kementerian PUPR untuk menyiapkan sudetan di Madura. "Memang, beberapa titik sungai, kita butuh sudetan. Misalnya, di Madura ada sudetan di kawasan Sungai Kemuning di Sampang." katanya.

Nantinya, di kawasan ini akan dibangun sudetan dari Sungai Kemuning ke laut. Proyek ini merupakan kerjasama antara pihak pemerintah Kabupaten dengan Pemerintah pusat.

"Sungai Kemuning ada plengsengan juga dari Kementerian Pu-Pera. Pemkab diharapkan membuat sudetan ke laut. Lahanmya dari Pemkab, pembiayaan dari APBN, lewat Kementerian PU-Pera, Dirjen Sumber Daya Air," jelasnya.

"Seperti ini kan satu-satu. Sampang kita selesaikan, Pasuruan kita selesaikan. Saya rasa bisa selesaikan satu-satu, chase by chase," pungkasnya. 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved