Breaking News:

Kabar Jember

Angka Kasus DBD Naik Di Jember, Kadinkes: Fogging Bukan Solusi Namun PSN

Meski ada peningkatan jumlah pasien DBD dan ditemukan kasus kematian, Pemkab Jember belum mengubah status penangananan DBD menjadi KLB.

wikipedia
Nyamuk Aedes Aegypty. 

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember mendata satu orang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) di tahun 2019 ini.

Kepala Dinkes Jember, Siti Nurul Qomariah mengatakan, ada empat orang meninggal dunia yang dicurigai terkena DBD. "Dari empat suspect DBD, satu orang yang positif meninggal karena DBD setelah dicek secara total," kata Nurul, Selasa (12/3/2019).

Meskipun ada sejumlah laporan diterima Dinkes terkait warga yang meninggal dunia karena DBD, dikatakan Nurul, pasien tersebut harus dicek secara menyeluruh untuk memastikan jika pasien itu memang positif terkena DBD.

"Karena DBD itu kan akibat virus yang dibawa oleh nyamuk, karenanya perlu pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien," imbuh Nurul.

Menurut Nurul, sejak Januari hingga awal Maret ini dilaporkan 330 orang pasien suspect DBD di Jember. Dari jumlah itu, sekitar 100 - 200 orang yang dinyatakan positif terjangkit DBD.

Nurul mengakui jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Memang ada peningkatan dibandingkan tahun lalu, yang suspect sekitar 330 mulai Januari sampai Maret, tetapi yang positif antara 100 - 200 pasien," lanjutnya.

Meski ada peningkatan jumlah pasien DBD dan ditemukan kasus kematian, Pemerintah Kabupaten Jember belum mengubah status penangananan DBD menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Menurut Nurul, sejauh ini hanya dua daerah di Jawa Timur yang dinyatakan KLB DBD yakni Ponorogo dan Kediri.

Nurul menambahkan, kenaikan jumlah pasien DBD ini berbarengan dengan siklus lima tahunan angka DBD. Terjadi peningkatan jumlah pasien DBD di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Jember, dalam rentang waktu lima tahun.

Tiga kecamatan kawasan kota yakni Patrang, Sumbersari, dan Kaliwates, kata Nurul, masih menempati kawasan dengan jumlah pasien DBD terbanyak di Jember.

Karenanya, dia mengajak semua pihak meningkatkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). "Kalau hanya fogging itu tidak menyelesaikan masalah sampai akarnya. Gerakan yang efektif itu pemberantasan sarang nyamuk, gerakan 3 M plus. Kalau fogging itu malah menyelesaikan masalah namun dengan menimbulkan residu yang itu rentan membahayakan kesehatan," tegas Nurul.

Nurul menambahkan, meskipun terjadi peningkatan jumlah pasien DBD, angka bebas jentik nyamuk penyebar DBD di Jember masih di atas angka nasional. Karenanya, menurut Nurul, tidak perlu ada pengasapan atau fogging jika masyarakat rajin melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved