Kabar Pasuruan

Miliaran Rupiah Modal Usaha Kopi Kapiten Pasuruan Sia-sia, Ternyata Brand Sudah Dimiliki Orang Lain

Apa boleh buat, proses pengurusan izin tak berjalan seperti yang diingikan. Brand kapiten sudah kedahuluan pengusaha kopi asal Pati, Jawa Tengah.

Miliaran Rupiah Modal Usaha Kopi Kapiten Pasuruan Sia-sia, Ternyata Brand Sudah Dimiliki Orang Lain
suryamalang.com/Galih Lintartika
Suasana kedai dan cafe Kopi Kapiten di Pandaan Pasuruan, ramai dikunjungi penikmat kopi. 

SURYAMALANG.COM, PASURUAN - Beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan gencar membranding dan mempromosikan Kopi Khas Kabupaten Pasuruan (KAPITEN). Bahkan, promosinya menelan anggaran miliaran rupiah. Bupati dan jajarannya sangat gencar memamerkan Kopi Kapiten ini.

Sayangnya, sekarang kopi kapiten ini ibarat ditelan bumi. Kopi kapiten kehilangan taringnya. Tak pernah ada gembar - gembor tentang kapiten. Brand mendadak hilang seketika. Bahkan, tak pernah ada lagi embel - embel ngopi bareng kopi kapiten.

Sebenaranya, konsep kopi kapiten ini sangat jelas. Akan diproduksi secara massal lantas dipasarkan. Tapi, apa boleh buat, proses pengurusan izin tak berjalan seperti yang diingikan. Brand kapiten sudah kedahuluan pengusaha kopi asal Pati, Jawa Tengah.

Direktur Utama PT Kapiten Jaya Abadi, Sunaryo mengatakan, penyebabnya adalah Kabupaten Pasuruan kurang cepat sehingga gagal mendapatkan merk dagang produksi Kopi Kapiten.

"Kabupaten Pasuruan gencar mempromosikan kopi andalannya, tapi di sisi lain, ada pengusaha asal Pati, Jawa Tengah, yang bergerak cepat mendaftarkan merk dagang kopi kebanggaan masyarakat Kabupaten Pasuruan itu ke BPOM," katanya saat ditemui di Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Ia baru saja mengetahui saat mengurus perizinan. Merk dagang Kopi Kapiten sudah dimiliki seorang pengusaha dari Pati, Jawa Tengah. Secara tak langsung, ia menyebut, usaha kopi kapiten ini sia - sia. Sudah banyak modal yang digelontorkan untuk investasi di bidang kopi ini.

"Mulai mesin produksi, kopi, dan semuanya sekarang tak bisa digunakan. Semisal diproduksi, tapi tidak bisa dipasarkan. Kalau nekat dipasarkan, kami bisa jadi dituntut balik oleh pemilik brand kapiten di Pati itu sendiri," tambah Sunaryo.

Menurutnya, ide awal memproduksi kopi ini dimulai ketika Pemkab Pasuruan melaunching Kopi Kapiten sebagai kopi khas Kabupaten Pasuruan. Sejumlah teman dekat Bupati Pasuruan ini mendirikan badan usaha yang di proyeksikan untuk produksi masal kopi yang di klaim memiliki cita rasa tinggi.

"kopi Kabupaten Pasuruan ini memiliki cita rasa yang khas sekali, karena berada dan ditanam diantara dua gunung berapi yakni Gunung Arjuno dan Gunung Bromo. ini membuat kopi Pasuruan berbeda dengan kopi lainnya," jelasnya.

Pada 28 Desember 2016, Perkumpulan Petani Kopi Indonesia (Apeki) Kabupaten Pasuruan, mendaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) di Kementerian Hukum dan HAM. Sertifikat Merk yang diperoleh dan berlaku hingga 28 Desember 2026 tersebut diantaranya sebatas pada jasa periklanan, informasi perdagangan dan penyelenggaraan pameran serta penataan etalase toko dan cafe.

“HAKI Kopi Kapiten hanya bisa menjadi pajangan promosi, periklanan dan pameran serta cafe. Kami tidak bisa memproduksi dan menjual Kopi Kapiten ke pasaran. Kami mengantongi HAKI, tapi BPOM belum jadi, karena kami kedahuluan pengusaha dari Pati," jelas Mas’ud, salah satu pemegang saham PT Kapiten Jaya Abadi lainnya.

Dengan modal dasar pembentukan PT Kapiten Jaya Abadi sebesar Rp 1 miliar dan modal ditempatkan Rp 300 juta, lanjut Mas’ud, tidak ada lagi yang bisa dikerjakan untuk memulai usaha produksi kopi tersebut. Sejumlah alat mesin pengolahan kopi yang terlanjur dibeli, juga tidak bisa dimanfaatkan lagi.

“Kami sudah tidak bersemangat melanjutkan usaha produksi kopi, kecuali ada kerjasama dengan pemegang merk. Tapi apa mereka mau, karena sudah mampu memproduksi rata-rata 60 ton,” ujar Mas’ud.

Sekadar diketahui, kondisi ini jelas merugikan Pemkab Pasuruan yang selama ini mempromosikan kopi kapiten.

Sudah terlanjur mengeluarkan biaya promosi dan pameran hingga miliaran rupiah, produksi kopi yang diidamkan justru lepas dari jangkauan tangan. Jadi, selama ini, Pemkab mempromosikan produk yang jelas bukan produk asli Pasuruan, karena brand itu milik orang Pati. 

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved