Misteri Situs Purbakala di Tol Malang Pandaan yang Belum Terungkap, Pantas Kalau Pembangunan Digeser
Misteri Situs Sekaran di Tol Malang Pandaan yang Belum Terungkap, Pantas Kalau Pembangunan Digeser
SURYAMALANG.com, MALANG - Penggalian atau eskavasi di Situs Sekaran yang berada di kawasan pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang sudah berakhir 5 hari lalu.
Saat ini di Situs Sekaran, yang berlokasi di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang terpasang pagar yang mengelilingi situs itu.
Situs Sekaran yang diduga peninggalan kerajaan SIngasari itu seluas 25x25 meter dan berada pada proyek jalan tol Malang-Pandaan seksi V, Km 37.
Situs ini bakal diserahkan ke Balai Arkeologi Yogyakarta untuk diteliti lebih dalam keberadaanya.
• Perihal Misteri Situs Sekaran di Tol Malang - Pandaan, Ini Imbalan Bagi Penemu Benda Purbakala
• Kronologi & Fakta Cewek Diperkosa 2 Cowok saat Pacaran di Tempat Sepi, Ini 9 Temuan yang Terungkap
• Pendeta Perempuan Dibunuh dan Diduga Diperkosa di Perkebunan, Bocah Perempuan Ini Jadi Saksi Kunci
Dari data yang SURYA MALANG himpun, berikut fakta-fakta terbaru tentang Situs Sekaran:
1. Bangunan Suci era Kerajaan Singasari

• Gadis 12 Tahun Pamit ke Minimarket, Ternyata Temui Pria 30 Tahun di Jombang dan Terjadilah. . .
• Ambisi Lucinta Luna Jadi Perempuan Terbongkar Usai Diramal Denny Darko, Ini Jawaban Soal Pernikahan
BPCB Jatim memastikan bahwa bangunan yang ada di Situs Sekaran merupakan bangunan suci era Kerajaan Singasari.
Hal itu dibuktikan dari ditemukannya paduraksa (gerbang) dan struktur bangunan berupa pondasi yang diyakini sebagai altar.
"Tapi itu (paduraksa) baru satu yang kita temukan harusnya dua. Makanya kita cari ke sisi timur laut tapi belum ketemu," kata Kepala BPCB Jatim, Andi Muhammad Said, di Malang, Selasa (19/3/2019).
Periodesasi bahwa bangunan Situs Sekaran dibangun di era Kerajaan Singasari juga diperkuat dengan ditemukannya koin gobok bertuliskan Dinasti Song.
Dinasti Song memimpin Tingkok pada abad X-XIII atau sama dengan masa kepempimpinan Kerajaan Singasari di Malang.
"Dinasti Song itu abad X dan itu sebelum era Kerajaan Majapahit," ucap Andi.
2. Menghadap ke Gunung Semeru

Arkeolog BPCB Jatim mengatakan bangunan suci yang ditemukan di Situs Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang menghadap ke salah satu gunung suci di Pulau Jawa yakni Gunung Semeru.
Hal itu diperkuat dengan temuan struktur bangunan yang menyerupai paduraksa (pintu gerbang) yang mengarah ke timur laut. Jika dilihat dari lokasi, terlihat jelas Gunung Semeru dihadapannya.
"Kalau itu bangunan suci sudah clear. Menghadap ke Semeru itu juga sudah clear," kata Andi.
3. Rusak sejak zaman Belanda

Arkeolog BPCB Jatim mengatakan awalnya bangunan suci di Situs Sekran sangat megah dan memiliki atap dari bahan organik seperti ijuk.
Diperkirakan, bangunan tersebut telah hancur sejak Belanda menguasai Malang. Hal ini dibuktikan dari sebaran bata yang massif di lokasi ekskavasi.
4. Penemuan terbesar Tahun 2019

Situs Sekaran menjadi yang penemuan purbakala terbesar di Tahun 2019.
Berdasarkan hasil ekskavasi BPCB Jatim, ditemukan tiga pondasi struktur bata yang berdasarkan denahnya memiliki orientasi Barat laut-Tenggara di area singkapan seluas 380 meter persegi.
Diperkirakan masih lebih luas dari area singkapan ekskavasi saat ini, dengan indikasi adanya tatanan bata di barat daya area titik ekskavasi.
5. Ruas tol digeser

Dengan ditemukannya Situs Sekaran, ruas tol di Kilometer 37 Pandaan-Malang digeser sejauh delapan meter ke bantaran Sungai Amprong, Desa Sekarpuro Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Pergeseran ruas tol tersebut menyusul penemuan situs purbakala di Dusun Sekaran atau masuk seksi V Tol Pandaan-Malang yang dinyatakan signifikan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim).
"Kami tadi sepakat bahwa ruas tol akan digeser delapan meter ke bantaran Sungai Amprong," kata Direktur Utama (Dirut) JPM, Agus Purnomo, Senin (25/3/2019).
Ia menambahkan pergeseran ruas tol ke bantaran Sungai Amprong memungkinkan untuk dikerjakan. Nantinya, akan ada tambahan konstruksi seperti pemasangan turap.
Total lebar jalan tol atau right of way (ROW) di Kilometer 37 Pandaan-Malang kata dia, selebar 60 meter.
"Sangat aman jika digeser ke bantaran sungai. Lebar ROW di Kilometer 37 itu sekitar 60 meter. Dan itu sudah aman. Tidak menyentuh situs yang kemarin diekskavasi," ujar Agus.
Agus menerangkan pengerjaan seksi V Tol Pandaan-Malang dipastikan mundur dari target awal yakni bulan Juni. Saat ini, pengerjaan seksi V masih sebesar 26 persen.
"Ya mau tidak mau harus mundur dari target karena harus ada perencaan ulang kan," ucap dia.
Sementara itu, Kepala BPCB Jatim, Andi Muhammad Said, menyatakan bahwa situs purbakala di Tol Pandaan-Malang harus dilestarikan. Saat ini, BPCB Jatim telah menetapkan delineasi situs seluas 24x24 meter.
"Area itu kami nyatakan sebagai area yang harus dilindungi atau batas aman situs. Artinya tidak bisa di ganggu oleh siapapun," kata Andi.
Andi membenarkan BPCB Jatim menyetujui pergeseran ruas tol di Kilometer Pandaan-Malang sejauh delapan meter ke bantaran Sungai Amprong. Namun jika nantinya ditemukan struktur bata kembali, pihak tol wajib menghentikan pembangunan.
"Kami sejauh ini sepakat untuk ruas tolnya digeser delapan meter ke sungai. Tapi kalau misal nanti ditemukan struktur bata kembali, ya harus dihentikan," pungkas dia.
Situs Sekaran di Tol Pandaan-Malang telah dilakukan ekskavasi penyelamatan oleh BPCB Jatim selama 10 hari sejak Selasa (12/3) hingga Kamis (21/3).
Kesimpulan sementara, situs purbakala merupakan kompleks peribadatan yang dibangun di era kerajaan Singhasari atau Singosari.
Temuan-temuan
1. Struktur anak Tangga

2. batu bata

3. Uang Koin

4. Pecahan Keramik

5. Pecahan koin dan Emas

6. Terowongan Misterius
Selain temuan-temuan tersebut, di lokasi juga ditemukan arung atau saluran air purbakala di sisi timur ruas utama jalan Tol Pandaan-Malang tepatnya di Kilometer 37.
Dari pantauan SURYAMALANG.com, arung berupa terowongan, lalu di atasnya sudah tertutumpuk tanah hasil ekskavasi jalan tol.
Arung itu berada dibawah tebing di bantaran Sungai Amprong atau sekitar 100 meter dari temuan struktur bangunan purbakala di sisi barat ruas utama Tol Pandaan-Malang.
"Apakah nanti saluran air itu berhubungan dengan situs atau tidak, itu akan kami selidiki," kata Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim), Wicaksono Dwi Nugroho, Sabtu (16/3/2019).

Ia menjelaskan arung kerap ditemukan di beberapa daerah termasuk di Mojokerto, Banyuwangi, Kediri dan Jogjakarta.
Pada zaman kerajaan masa lalu, arung kerap digunakan sebagai tempat drainase maupun jalan rahasia bagi seorang raja untuk melarikan diri.
"Sepertinya ada strategi dari pendahulu kita tentang bagaimana untuk mengatur drainase kemudian ada hubungannya dengan Keraton."
"Misal kita tarik lagi ke masa yang lebih muda dimana terdapat terowongan atau arung di Keraton Jogjakarta," katanya.
Menurut Wicaksono, penemuan arung tidak berdampak signifikan untuk memecahkan teka-teki situs purbakala yang kini tengah diekskavasi.
Hanya saja kata dia, penemuan arung menandakan bahwa sebaran struktur bangunan kemungkinan juga berada di sisi timur ruas tol.

Wicaksono yang dihubungi SURYAMALANG.com kembali pada Senin 18 Maret 2019 menuturkan Situs Sekaran menggunakan pola yang nyaris baru dan tidak ditemukan di situs-situs purbakala lain.
"Sejauh ini cukup signifikan karena ini ada pola-pola yang tidak biasa kami temukan di tempat lain dan mungkin bisa memecahkan berbagai pertanyaan akademis terkait dengan masa lalu," kata Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho, Senin (18/3/2019).
DIa lantas menjelaskan jenis batu-bata yang digunakan berbeda. Wicaksono menduga struktur bangunan di Situs Sekaran telah ada sejak era pra Kerajaan Majapahit.
Dari empat temuan struktur bangunan, ada tiga jenis batu-bata yang digunakan yakni ukuran 35, ukuran 38 dan ukuran 40.
"Tebalnya juga ada yang 6cm, 7cm dan 8cm," ucap Wicaksono. (*)