Kabar Tulungagung

Pohon Sono Keling Yang Diduda Dicuri Di Ruas Jalan Nasional Wilayah Tulungagung Mencapai 91 Batang

Ternyata jumlah pohon sono keling di tepi jalan raya yang dibalak di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek mencapai 91 batang.

Pohon Sono Keling Yang Diduda Dicuri Di Ruas Jalan Nasional Wilayah Tulungagung Mencapai 91 Batang
suryamalang.com/David Yohanes
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Dewi Putriatni (berbaju biru), saat memeriksa tunggak sono keling yang diduga dicuri Di Tulungagung. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Ternyata jumlah pohon sono keling di tepi jalan raya yang dibalak di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek mencapai 91 batang. Hal itu terungkap dalam rapat seluruh pihak terkait, di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Jumat (5/4/2019).

“Ada 91 titik tebangan (sono keling) di sepanjang jalan Tulungagung-Trenggalek, dan Tulungagung-Blitar,” kata Kelapa Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Dewi Putriatni.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Kehutanan Provinsi Jatim akan melakukan survei bersama dengan Balai Pemeliharaan Jalan Nasional (BPJN). Sebab, menurut Dewi, pohon-pohon yang ditebang ada di ruas jalan nasional, bukan jalan provinsi seperti yang ditulis sebelumnya.

Survei bersama ini rencananya dilaksanakan Selasa (9/4/2019), dan akan dilanjutkan dengan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Dewi memastikan, penebangan pohon yang masuk apendiks 2 ini dilakukan tanpa izin. “Kalau ada indikasi tindak pidana, akan kami laporkan ke pihak berwajib. Bisa kepolisian, bisa Balai Gakum (Penegakkan Hukum),” ujar Dewi.

Hingga saat ini belum diketahui, kemana 91 pohon sono keling yang sudah ditebang itu. Dinas kehutanan tengah mencari data dan informasi pergerakannya. “Sebenarnya pohon ini boleh ditebang, diangkut, dimanfaatkan industri, tapi harus dilengkapi dokumen yang legal,” tegasnya.

Pengangkutan sono keling harus mempunyai dokumen, industri yang memanfaatkannya juga harus mengantongi izin.

Lanjut Dewi, ke depan perlu adanya sosialisasi terkait aturan kayu sono keling ini. Sebab, menurutnya, banyak yang tidak paham soal aturan apendiks 2.

“Seharusnya merasa kehilangan adalah BPJN, karena pohon itu di Rumija (ruang milik jalan) jalan nasional. Tapi ternyata BPJN belum paham aturan,” pungkas Dewi.

Pohon sono keling saat ini mempunyai nilai ekonomis tinggi, mengalahkan pohon jati. Satu pohon bisa mencapai Rp 30 juta. Sehingga muncul dugaan, pohon-pohon ini dicuri dan dijual ke eksportir. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved