Kabar Surabaya

Penjelasan Dindik Terkait Video Viral Siswa SD Surabaya yang Tendang Guru sampai Patah Tulang

Beredar video viral soal siswa kelas 6 SD di Surabaya yang menendang guru sehingga tangan gurunya patah.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Zainuddin
Instagram.com
Beredar video viral soal siswa kelas 6 SD di Surabaya yang menendang guru sehingga tangan gurunya patah. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA – Beredar video viral soal siswa kelas 6 SD di Surabaya yang menendang guru sehingga tangan gurunya patah.

Dalam video viral itu disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di Balongsari, Surabaya.

Dalam video viral itu terlihat seorang siswa berseragam pramuka tampak marah-marah di depan gurunya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya, Ikhsan mengakui kasus yang viral itu benar terjadi di Surabaya.

Begitu pula video yang memperlihatkan seorang siswa yang sedang menangis dan marah di depan gurunya.

Namun, dua kasus itu tidak berkaitan sama sekali.

Tapi, dua kasus itu memang terjadi di sekolah yang sama.

“Di SD itu memang ada kecelakaan (penendangan) sehingga guru mengalami patah tulang.”

“Itu terjadi saat peringatan Hari Kartini. Saat itu pihak sekolah minta para siswa menggunakan pakaian adat.”

“Nah ada siswa yang menggunakan pakaian yang tidak sesuai, kemudian ditegur.”

“Sehingga atribut yang dikenakan itu disita pihak sekolah.

“Ada kesempatan guru itu mengelus kepala siswa ini agar siswa itu tidak marah. Tapi anak itu merasa tidak nyaman sehingga dia berontok dan terjadi kecelakaan hingga guru jatuh dan patah tulang,” kata Ikhsan kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (24/4/2019).

Iksan menambahkan kecelakaan yang menyebabkan tangan guru patah itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

Sang anak minta maaf dan berjanji mengubah sikapnya.

“Jadi kasus itu sudah selesai. Sedangkan video yang ikut viral itu kasus lain lagi.”

“Jadi bukan pelaku penendangan yang tidak pakai baju adat. Ini ceritanya di sekolah yang sama, tapi kasus lain.”

“Guru di sekolah ini mau memanggil orang tua murid, tapi dia tidak bersedia dan marah,” lanjut Ikhsan.

Jadi antara berita yang viral dengan video yang menyertai kesimpulan Iksan adalah kasus yang berbeda, sekalipun memang dari sekolah yang sama.

“Anak yang penendangan dan di video itu juga beda. Kami juga kurang tahu bagaimana video itu bisa tersebar luas dengan berita yang berbeda,” terang Ikhsan.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved