Malang Raya

Melihat Ritual Tahunan Suku Tengger di Desa Berusia 1128 Tahun Dekat Kota Malang

Sebagai salah satu desa tua di Kabupaten Malang, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, genap berusia 1.128 tahun pada 13 April 2019 lalu.

Melihat Ritual Tahunan Suku Tengger di Desa Berusia 1128 Tahun Dekat Kota Malang
pemkab malang
Prosesi Grebeg Tengger Tirto Aji di Pemandian Air Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (28/4/2019). 

SURYAMALANG.COM, PAKIS - Sebagai salah satu desa tua di Kabupaten Malang, Desa Mangliawan Kecamatan Pakis, genap berusia 1.128 tahun pada 13 April 2019 lalu.

Namun, masyarakat setempat punya cara tersendiri merayakan hari jadi desanya. Yakni, dengan menggelar Grebeg Tengger Tirto Aji di Pemandian Air Wendit, Desa Mangliawan Kecamatan Pakis, Minggu (28/4/2019).

Wilayah desa tua ini hanya sejauh sekitar 7 Km dari Balai Kota Malang, dan 2,5 Km dari Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro Kecamatan Pakis yang kini diketahui sebagai bagian dari kotaraja era kerajaan Singhasari.

PETA - Desa Mangliawan Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Ada sebutan lain untuk prosesi yang diyakini sudah dilakukan turun temurun itu. Warga setempat ada menyebutnya sebagai Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal.

Prosesinya dimulai dengan mengarak jampana sayuran dan buah-buahan hasil bumi dari masyarakat Tengger mulai dari pintu masuk hingga pendapa. Prosesi kemudian dilanjut dengan tari 7 Bidadari sebagai perlambang untuk mengambil air.

Plt Bupati Malang, Muhammad Sanusi turut ambil bagian dalam prosesi tersebut. Setelah prosesi tari selesai, ia mengambil air suci untuk warga dan disaksikan ketua adat Suku Tengger.

"Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Malang, saya menyambut baik dan mengucapkan terima kasih. Ini merupakan upaya pelestarian budaya," ujar Sanusi.

Sanusi menyebut, meski era sudah modern dengan digitalisasi pada setiap tatanan sosial dan gaya hidup. Masyarakat Suku Tengger masih mempertahankan mandat leluhur melalui Grebeg Tengger Tirto Aji.

Secara pemaknaan, Suku Tengger percaya jika air di mata air Sidodaren itu bermanfaat bagi kesehatan maupun kesuburan lahan pertanian. Selain itu, Grebeg Tirto Aji adalah representasi pengucapan rasa syukur kepada sang pemberi hidup.

Sesaji dan hasil bumi menjadi simbol rasa syukur mereka. Usai pengambilan air,warga Suku Tengger membawa pulang air tersebut.

Demi kemajuan Pariwisata di wilayahnya, Sanusi ingin Grebeg Tengger Tirto Aji dapat menjadi agenda wisata budaya. Muaranya dapat meningkatkan PAD Kabupaten Malang

"Saya berharap kepada semua pihak, khususnya kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, untuk bisa menjadikan kegiatan ini masuk dalam agenda wisata nasional. Dengan semakin maraknya destinasi wisata, hal ini juga bisa berpengaruh pada perkembangan perekonomian masyarakat yang nantinya juga bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Malang," tutup Sanusi.

Penulis: Mohammad Erwin
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved