Breaking News:

Kabar Surabaya

Menelaah Lukisan Karya Kapten Kapal Asal Turen Malang yang Dipamerkan di Surabaya

Pelukis asal Turen, Kabupaten Malang itu memang bekerja sebagai kapten kapal. Yudi mengaku proses kreatifnya banyak dilakukan saat berlayar.

Editor: yuli
Hefty
Bang Boleng Bintu Aji, tajuk pameran tunggal sekaligus judul masterpiece lukisan karya Yudi Pelaut, kapten kapal asal Turen, Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Yudi sengaja menambahkan kata Pelaut pada namanya,

Pelukis asal Kecamatan Turen, Kabupaten Malang itu memang bekerja sebagai kapten kapal. Yudi mengaku proses kreatifnya dalam melukis banyak dilakukan saat berlayar di lautan luas.

Termasuk 34 karya lukis bertajuk Bang Boleng Bintu Aji. Karyanya tersebut telah tujuh hari dipamerkan dalam Galeri Orasis di Surabaya barat, Sabtu (4/5/2019) adalah hari terakhirnya.

Dalam pameran tunggalnya itu, Yudi menjadikan lukisan berukuran 280 x 160 cm berjudul Bang Boleng Bintu Aji sebagai klimaks atau masterpiece karyanya.

"Judul lukisan itu dijadikan sebagai klimaks atau masterpiece dalam pameran saya kali ini adalah hasil diskusi saya dengan Heti Palestina Yunani, jurnalis dan penulis yang sesungguhnya bertindak sebagai kurator dalam pameran saya kali ini," ujar Yudi.

Lukisan itu sebenarnya disarankan Heti tidak sejak mula. Namun setelah memilih materi lukisan yang harus disertakan dalam pameran, ia melihat lukisan itu ketika akan pulang dari rumah saya di Turen ke Surabaya.

Begitu tahu judulnya yang menarik dan dalam secara filosofi, justru ia tertarik untuk menyertakannya.

Lukisan berjudul Bang Boleng Bintu Aji melukiskan sejuknya Telaga dengan latar belakang Gunung serta 11 burung merpati yang bercengkrama di dahan pohon yang menjorok ke telaga.

Namun, supaya lukisan tersebut seirama dengan lukisan saya yang lainnya, Heti menyarankan agar saya pun memasukkan Si Merah dalam lukisan tersebut.

"Tapi dalam lukisan itu, akhirnya saya tidak hanya menghadirkan sosok Si Merah. Ada juga sosok berwarna kuning, hitam, dan putih untuk melengkapinya. Empat warna itu hadir sebagai gambaran dari empat nafsu yang ada dalam diri manusia,"papar pria berusia 48 di 2019 ini.

Dijelaskannya dalam warna yang sesuai dengan filosofi Bang Boleng Bintu Aji, nafsu itu terdiri dari merah yang berarti nafsu amarah. Kalau diibaratkan, nafsu merah ini tempatnya api, hawanya sangat panas sekali. Namun ia lambang energi.

Nafsu yang kedua berwarna kuning, Yudi mengatakannya sebagai nafsu aluwamah. Nafsu ini mewakili keserakahan, keinginan yang tinggi, ada iri dan dengki. Nafsu ini tempatnya angin yang menjadi simbol kecepatan, ini pun bisa dibaca sebagai ketepatan manusia dalam bertindak melakukan sesuatu sesuai hukum alam.

Berikutnya nafsu hitam atau nafsu sufiyah. Menurut Yudi, meski disangka gelap, namun nafsu ini tenang dan anteng, tempatnya adalah di bumi. Seperti sifatnya, bumi tempat kita berpijak adalah sebagai lambang kekuatan dan sekaligus mewakili sifat kedermawanan yang ada dalam diri manusia.

Terakhir adalah nafsu putih atau mutmainnah, nafsu ini dingin hawanya dan menyejukkan, sebab di sinlah tempatnya air berada.

"Kalau manusia sudah tahu jenis-jenis nafsu yang ada dalam dirinya. Maka ia telah menemukan identitas dirinya. Makna yang bisa dipetik dari pemahaman nafsu ini bagaimana cara mengendalikan empat sifat nafsu agar kita tidak salah arah, tutur Yudi. Hefty's Suud

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved