Ramadhan
Prediksi Awal Puasa Ramadhan 2019 Berdasarkan Perhitungan Astronomi, Ini Lima Tandanya
Umat Islam seluruh Indonesia tengah menanti perkiraan awal puasa Ramadhan 2019.
Penulis: Raras Cahyaning Hapsari | Editor: Adrianus Adhi
SURYAMALANG.com - Umat Islam seluruh Indonesia tengah menanti perkiraan awal puasa Ramadhan 2019.
Berikut ini perkiraan awal Ramadhan 2019 berdasarkan perhitungan Astronomi.
Sebelumnya perlu diketahui, biasanya untuk menentukan awal Ramadhan 2019, pemerintah akan mengadakan Sidang Isbat.
Sidang Isbat ini biasanya juga melibatkan Kementrian Agama (Kemenag), BMKG, LAPAN dan beberapa pihak terkait lainnya.
Bagian terpenting dari sidang Ibat ini adalah pemantauan Hilal atau bulan sabit muda pertama yang adalah tanda dari permulaan bulan dalam kalender Islam.
Seperti definisi di atas, hilal merupakan salah satu fase bulan.
• Jadwal Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2019, Doa Menyambut Hilal dan 7 Persiapan Puasa
• Video Aksi Bunuh Diri Pria yang Gagal Jadi Viral di Facebook, Alasanya Bikin Warga Ketawa
• Foto Wanita Menikah Sambil Menyusui Bayinya Viral di IG, Ternyata Sosok Artis Terkenal
Hal ini berarti, hilal juga seperti bulan purnama atau gerhana bulan yang bisa dihitung dan diperkirakan dengan metode astronomi masa kini.
Lalu, apakah hilal untuk bulan Ramadhan tahun ini juga bisa dihitung?
Melansir dari Grid.id dalam artikel berjudul 'Dihitung Berdasarkan Astronomi, Awal Ramadhan 1440H Jatuh Pada Tanggal ini' Rukman Nugraha seorang peneliti BMKG memberikan jawaban.
Menurut Rukman, karena hilal adalah salah satu fase bulan maka secara umum proses penghitungannya sama saja.
"Mungkin perbedaan mendasarnya adalah Hilal itu dihitung pada saat Matahari terbenam hingga bulan terbenam," ujar Rukman melalui pesan singkat.
"Sementara fase-fase lain, utamanya fase bulan baru, fase setengah purnama awal, fase purnama, dan fase setengah purnama akhir waktunya tidak tetap, bisa pagi, siang,atau malam," imbuhnya.
Rukman menyebut saat ini, perhitungan posisi hilal sudah sedemikian akurat, hingga orde titik busur.
"Sebagai catatan satu detik busur itu adalah ukuran satu derajat dibagi oleh angka 3600."
"Karena itu, dapat dikatakan, prediksi posisi hilal secara astronomis sangatlah akurat," tutur Rukman Meski begitu, Rukman juga menjelaskan ada setidaknya 5 hal yang perlu kita pahami untuk bisa menghitung data hilal.
• Ramalan Denny Darko Terbukti, Syahrini Lakukan Ini saat Gala Dinner Pernikahan, Singgung Sosok Hater
• Fakta-Fakta Foto Misteri Nia Ramadhani & BCL, dari Jari Bawa Rokok Terekam dan Penampakan Lainnya
Pertama, kita perlu tahu tentang waktu fase bulan baru atau juga dikenal sebagai fase konjungsi atau ijtima'.
Kedua, hilal juga dipengaruhi oleh waktu terbenam matahari dan bulan di lokasi yang dihitung. "
Ketiga, informasi astronomis hilal pada saat matahari terbenam (hingga saat bulan terbenam).
Informasi astronomis yang dimaksud adalah tinggi hilal, elongasi, umur bulan, lag, dan fraksi illuminasi bulan," kata Rukman.
• Bapak Rasa Kakak, Fadel Islami Kompak Bareng Anak Sulung Muzdalifah
• V dan Jin BTS Miliki Profesi Impian Tak Terduga, Ini Pilihannya Jika BTS Tak Pernah Ada
Keempat, Perbandingan antara data yang dihitung tersebut dengan kriteria visibilitas Hilal yang digunakan di Indonesia.
"Misalnya, kriteria wujudul hilal, kriteria MABIMS, atau kriteria LAPAN. Jika data hilal tersebut memenuhi kriteria yang digunakan, maka bulan baru berikutnya pada kalender hijriah akan berlaku," ujar Rukman.
Kelima, menurut Rukman, jika rukyat akan dilaksanakan maka data Hilal tersebut berfungsi sebagai panduan bagi pengamat.
"Karena itu perukyat harus memahami data hilal yang telah dihitung sebelumnya," tegas Rukman.
Awal Ramadhan 2019 "Sebagai contoh hal ini adalah pada penentuan awal Ramadhan nanti, data hilalnya akan memenuhi ketiga kriteria (visibilitas hilal) di atas.
Karena itu, secara perhitungan puasa Ramadhan 1440 H akan bersamaan pada 6 Mei 2019,".
Hal ini juga mengacu pada prakiraan hilal saat matahari terbenam pada 5 Mei 2019 mendatang.
Prakiraan ini, kata Rukman, merupakan data hasil perhitungan atau hisab dengan menggunakan metode astronomis modern.
"Jadi, ilmu astronomis diperlukan dalam memprediksi data astronomis hilal, yaitu tinggi hilal, elongasi, umur bulan, lag, dan fraksi illuminasi bulan," ujar Rukman.
Menurut data yang dipublikasikan oleh BMKG, informasi Hilal saat Matahari terbenam, pada hari Ahad, tanggal 5 Mei 2019 M sebagai penentu awal bulan Ramadhan 1440 H.
"Pada intinya, data hilal itu dihitung pada saat matahari terbenam, karena nantinya diperlukan pada saat rukyat dilaksanakan," kata Rukman.
"Saat ini, BMKG juga melakukan pengamatan/ rukyat Hilal yang tersebar di seluruh Indonesia.
BMKG melakukan rukyat Hilal setiap bulan, bukan hanya saat ramadhan, Syawal atau Dzulhijjah saja," imbuhnya.
Lokasi rukyat atau pengamatan hilal Tim BMKG saat ini ada 30 lokasi. 26 di antaranya, bahkan akan melakukan live streaming.
Rukman menyebut hal ini dilakukan agar masyarakat luas bisa mengetahui proses rukyat hilal.
Dengan kata lain, perhitungan astronomis atau hisab merupakan data awal untuk menentukan awal Ramadhan.
Namun, perhitungan tersebut perlu dibuktikan dengan pengamatan atau rukyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/tata-cara-bayat-utang-uasa-ramadan-2019.jpg)