Breaking News:

Malang Raya

Awalnya Tak Suka Kopi, Sam Bejo Kini Malah Jadi Pecinta Kopi Beken di Malang

Kopi dan Yusli Obing ibarat seperti sepasang kekasih yang tak dapat dipisahkan. Begitulah kiranya kisah sosok pecinta kopi yang akrab disapa Sam Bejo

SURYAMALANG.COM/Mohammad Erwin
Sam Bejo memamerkan skill meracik kopi di kedai miliknya 

SURYAMALANG.COM, KEPANJENKopi dan Yusli Obing ibarat seperti sepasang kekasih yang tak dapat dipisahkan. Begitulah kiranya kisah sosok pecinta kopi yang akrab disapa Sam Bejo ini. Meski awalnya tak suka, akhirnya ia jatuh cinta juga.

“Saya dulu termasuk orang yang gak suka kopi sebenarnya. Tapi, penasaran dengan kopi sih iya karena menurut saya unik. Kopi bisa menghasilkan rasa yang berbeda hanya dengan treatment tertentu,” ungkap pria yang identik dengan gaya rambut nyentrik itu, Minggu (5/5/2019).

Rudi Ghocir merupakan sosok yang memberi andil Sam Bejo menekuni dunia minuman berkafein itu. Pasalnya sejak saat itu, ia yang awal mula buta dengan kopi menjadi peka dengan bermacam-macam jenis, aroma dan rasa kopi se-antero Nusantara.

Kala itu, Sam Bejo bertemu dengan rekannya itu saat berjualan susu dengan mikrolet khasnya pada tahun 2012. Maka dari itu, mikrolet miliknya ia anggap punya sisi kesejarahan yang bagus. Kini, mikrolet itu ia pajang mangkrak di kedainya yang berada di lantai dua rumahnya yang berlokasi di Karangbesuki, Malang.

"Mobil ini saya beli dari mertua saya, dulu kan ada peremajaan. Ya saya beli untuk dagang susu waktu itu. biasanya saya mengkal di depan gereja ijen pas tahun 2012 yang lalu," terang pria yang rutin sambangi Kopi Babinsa, Desa Taji, Kecamatan Jabung itu.

Petualangan Sam Bejo mengenal berbagai cita rasa kopi bisa dibilang sangat getol. Ia sudah berkelana ke berbagai wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Dari 
pegunungan Trawas, Argopuro, Ijen hingga kopi dari Jawa Barat, seperti Halu Kopi, Kopi Gunung Puntang dan jenis Kamojang.

“Kurang lebih sekitar tiga tahun saya belajar dari berbagai tempat hingga keluar daerah. Tujuannya  belajar, setelah itu saya kembangkan di Malang,” terang pemilik kedai National Kopi itu.

Pria berambut pirang ini bercerita tentang panjangnya proses menciptakan kopi yang berkualitas. Semua berawal memilih bibit. Sam Bejo menerangkan, bibit yang terbaik adalah bibit dari kawasan itu sendiri. Dalam artian bibit yang sudah akrab dengan iklim di daerah asalnya.

Perawatan seperti pemberantasan hama dan pembersihan area kebun kopi layak diberi prioritas. Tak berhenti sampai di situ, pemilihan masa panen pun sangat diperlukan. Ia berpendapat, biji kopi terbaik harus dipanen tidak boleh kurang dari enam bulan dan atau lebih dari dua tahun.

"Kopi tak boleh asal dijemur di tanah. Harus sesuai suhu dan juga tingkat kelembaban. Kalau dijemur di tanah, kopi akan menguap lantaran suhu dan kelembabannya yang kurang sesuai, ketika disangrai hasilnya jelek,” ujarnya memberi wejangan. 

Halaman
12
Penulis: Mohammad Erwin
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved