Kabar Tulungagung

Unit Tipikor Polres Tulungagung Selidiki Dugaan Korupsi Bansos Pemprov Jatim 2017

Tipikor Satreskrim Polres Tulungagung menemukan dugaan penyelewengan Bantuan Sosial (Bansos) Pemprov Jatim 2017 di Kabupaten Tulungagung.

Unit Tipikor Polres Tulungagung Selidiki Dugaan Korupsi Bansos Pemprov Jatim 2017
suryamalang.com/David Yohanes
Sapi-sapi yang diperdagangkan di Pasar Hewan Tulungagung 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Unit Tindan Pidana Korupsi (Tipikor) Satreskrim Polres Tulungagung menemukan dugaan penyelewengan Bantuan Sosial (Bansos) Pemprov Jatim 2017 di Kabupaten Tulungagung.

Dana sebesar Rp 100 juta yang disalurkan, diduga disalahgunakan oleh seorang pendamping Gapoktan, dengan inisial DWK (31).

Kanit Tipikor Polres Tulungagung, Iptu Andik Prasetyo mengatakan, dana yang dikucurkan lewat Bansos Pemprov Jatim 2017 disalurkan lewat Pokmas Tentrem yang ada di Desa Karangrejo, Kecamatan Boyolangu.

Dana tersebut seharusnya dibelikan lima ekor sapi. Namun hasil penyelidikan Unit Tipikor, tidak ada seekor pun sapi yang dibeli dari dana tersebut.

“Kami tidak menemukan sapi yang bersumber dari dana tersebut. Justru temuan kami, dana tersebut dipakai untuk kepentingan pribadi," kata Andik Prasetyo, Selasa (7/5/2019).

DWK sendiri adalah warga desa Karangrejo. Namun dia diduga membentuk kelompok penerima bantuan Bansos itu secara fiktif. Hal ini dibuktikan sejumlah tanda tangan yang sengaja dipalsukan, untuk memuluskan pencairan.

Pejabat yang dipalsukan tanda tangannya antara lain Kepala Desa Karangrejo, dan sekretaris kecamatan Boyolangu.

“Ada juga sejumlah daftar hadir warga yang tanda tangan, sebagai bukti pertemuan untuk musyawarah. Diduga tanda tangannya juga dipalsukan,” ucap Andik.

DWK juga membuat SPJ dengan nomor 19/012/km.t/2017 dan dikirim pada 31 Desember 2017. Di dalam SPJ itu dirinci penggunaan dana hibah Rp 100 juta tersebut. Namun di dalamnya, penyidik Unit Tipikor menemukan nota dan kuitansi fiktif.

Sejauh ini masih ada dua temuan, yaitu penggunaan dana Rp 17 juta oleh almarhum ayah DWK, untuk kepentingan pribadi. Selain itu, DWK juga menggunakan dana Rp 23 juta untuk kepentingan pribadi.

“Untuk total kerugian, nanti biar BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan) yang memastikan. Karena temuan kami, tidak ada sapi yang dibeli sama sekali,” pungkas Andik. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved