Pengaturan Skor Liga Indonesia

Apa Kabar Satgas Anti Mafia Bola Polri ? Kasus yang Menyeret Exco PSSI Kembali Dipertanyakan

Salah satu voter PSSI mendesak Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Polri segera untuk tidak pandang bulu dalam kasus match fixing.

Editor: Dyan Rekohadi
Kolase - Instagram/@Krishnamurti
Wakil Ketua Satgas Antimafia Bola Polri, Brigjen Krishna Murti 

SURYAMALANG.COM - Setelah sempat gencar melakukan aksi penanganan kasus dugaan pengaturan skor di Liga Indonesia beberapa waktu lalu, kinerja Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri kini dipertanyakan.

Kinerja Satgas Anti Mafia Bola dipertanyakan karena tak ada atau tak terdengar lagi aktivitas dan pengembangan penanganan kasus yang sudah berjalan selama ini.

Banyak pecinta bola Tanah Air yang kembali mulai mempertanyakan keseriusan pihak terkait dan penegak hukum dalam membersihkan unsur mafia bola di liga Indonesia.

Terlebih ketika kinerja Satgas Anti Mafia Bola belakangan tak menunjukkan perkembangan setelah terakhir kali melakukan pemeriksaan pada unsur petinggi PSSI dan PT LIB.  

Shopee Liga 1 2019, E-Commerce Berbintang Slank, Via Vallen dan Blackpink Resmi Jadi Sponsor Utama

Persib Bandung Pilih Kamping Bersama di Gunung Jelang Kick Off Liga 1 2019, Tujuannya Simpel

Salah satu pemiliki hak suara atau voter di PSSI, Esti Puji Lestari, Presiden Persijap Jepara, mendesak Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Polri segera untuk tidak pandang bulu dalam kasus match fixing.

“Kalau Satgas memang mau bersih-bersih PSSI, sudah menjadi konsekuensi logis untuk memeriksa semua jajaran Exco (Executive Committee atau Komite Eksekutif, red) yang diduga terlibat match fixing."

"Satgas tidak boleh pandang bulu, sesuai asas equality before the law (kesetaraan di muka hukum),” ujar Presiden Persijap Jepara Esti Puji Lestari, salah satu voter atau pemilik hak suara PSSI, di Jakarta, Jumat (10/5/2019).

Esti berpendapat, setelah memeriksa seluruh jajaran Komite Eksekutif PSSI, Satgas harus melakukan gelar perkara untuk menentukan apakah mereka kemudian menjadi tersangka atau tidak.

Sebelumnya, hal senada disampaikan Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia Ignatius Indro. 

Voter lainnya, Persipura Jayapura, pun setali tiga uang.

Asisten Manajer Persipura, Bento Madubun, mendukung langkah Satgas Antimafia Bola untuk bersih-bersih PSSI.

Ketika Satgas sudah bertindak, kini giliran PSSI yang harus bergerak, yakni dengan mempercepat Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih Ketua Umum PSSI yang baru.

"Kami ingin sepak bola kami bersih. Hal paling utama adalah apa yang sudah dilakukan Satgas harus ditindaklanjuti. Caranya bagaimana? Apa yang menurut Satgas tidak beres di dalam, mari kita bersihkan," ujarnya seperti dilansir sebuah media.

Bento menilai, ada yang sedang berusaha melanggengkan kekuasaan di PSSI, dan itu bisa menyinggung Satgas Antimafia Bola.

”Jangan karena kekuasaan lalu PSSI korbankan yang lain. Jangan sampai aparat tersinggung," pintanya.

Potret Titi DJ Mirip Anak Ke-4 dari Suami Bulenya yang Mualaf, Kisah Cinta & Spiritualnya Inspiratif

Biodata Fadel Islami, Suami Muda Muzdalifah yang Ganteng & Ingin Jadi Aktor, Anak Orang Terpandang

Terkait kasus-kasus yang ditangani Satgas Anti Mafia Bola terdapat kasus yang menyeret nama IB, mantan CEO Arema FC.

IB, panggilan akrab Iwan Budianto, adalah salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI.

Kasus duagan suap yang menyeret IB ini bermula dari laporan mantan Manajer Tim Perseba Bangkalan, Imron Abdul Fattah, pada delapan besar Piala Soeratin 2009, awal Januari lalu.

Saat itu Imron mengucurkan dana Rp 140 juta sebagai setoran untuk menjadi tuan rumah fase delapan besar.

Satgas menemukan adanya aliran dana kepada IB dan jajarannya ketika masih menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) 2009.

Satgas menyatakan IB bisa menjadi tersangka kasus ini. Namun polisi masih melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut.

Kasus ini sudah naik dari tahap penyelidikan ke penyidikan.

Wakil Ketua Satgas Antimafia Bola, Brigjend Krishna Murti 

Selain IB, kasus ini juga menyeret manajer Madura United, Haruna Soemitro, yang waktu itu menjabat Ketua Pengda PSSI Jawa Timur.

Setoran uang dari Imron diduga prosesnya melewati Haruna.

Sedangkan Ratu Tisha telah beberapa kali diperiksa Satgas, terakhir Jumat (29/3/2019).

Menurut Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, pemeriksaan kepada Tisha sama seperti sebelumnya, hanya sebagai saksi untuk empat tersangka match fixing.

Tapi tidak tertutup kemungkinan jika nanti Tisha ataupun petinggi PSSI lainnya ditetapkan sebagai tersangka. 

Menurut Satgas Antimafia Bola, sebanyak 13 dari 15 anggota Komite Eksekutif PSSI diduga terlibat match fixing atau pengaturan skor pertandingan.

Sumber: BolaSport.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved