Kabar Banyuwangi

Festival Patrol Banyuwangi Pikat Rombongan Pelaku Wisata Amerika Serikat, Begini Keseruanya

Beragam alat musik dari bambu yang dimainkan dengan atraktif oleh para peserta berhasil memukau ratusan pengunjung yang menyaksikan.

Festival Patrol Banyuwangi Pikat Rombongan Pelaku Wisata Amerika Serikat, Begini Keseruanya
suryamalang.com/Haorrahman
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas saat di festival musik patrol bersama wisatawan asal Amerika Serikat. 

SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Festival musik patrol di Banyuwangi berlangsung meriah. Beragam alat musik dari bambu yang dimainkan dengan atraktif oleh para peserta berhasil memukau ratusan pengunjung yang menyaksikan.

Tak hanya warga Banyuwangi, bahkan rombongan wisata asal Amerika Serikat juga turut terpikat dengan aksi belasan grup patrol Banyuwangi ini.

Pada hari kedua pelaksanaan, festival ini berlangsung lebih meriah, Sabtu (11/5/2019) malam. Usai sholat tarawih, ratusan orang berbondong-bondong menuju Gedung Seni dan Budaya (Gesibu) untuk melihat festival musik tradisional ini.

Tampak hadir Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas bersama rombongan pelaku wisata dari Amerika Serikat. Mereka pun sangat tertarik dengan tradisi musik lokal warga Banyuwangi. Bahkan saat didaulat untuk maju ke depan bersama Bupati Anas, mereka ikut menirukan gaya pemain patrol.

Sambil memegang kentongan, Jesse Guerra dengan riangnya ikut berteriak Sahur, sahur. Tak hanya sekali, sambil antusias memainkan alat musik bambu, dia berteriak lagi. "Sahur, Sahur, sahur," lantang Guerra, koordinator biro perjalanan wisata AS wilayah Midwest asal Illinois tersebut.

Musik Patrol adalah musik tradisional yang menggunakan bambu sebagai medianya. Musik ini banyak dimainkan warga saat Ramadan untuk membangunkan orang dari tidur supaya segera sahur.

Bupati Anas mengatakan, patrol adalah bagian tradisi Ramadan warga Banyuwangi sejak dulu. Festival ini digelar  sebagai upaya melestarikan tradisi permainan alat musik bambu ini.

"Ini adalah bagian tradisi yang tidak boleh lekang. Kami ingin agar musik patrol ini bisa terus dimainkan anak-anak kita dan generasi penerus. Untuk itu, festival ini setiap tahun digelar agar musik patrol ini tetap hidup di antara warga," kata Anas.

Belasan grup musik patrol yang tampil pada malam itu sangat atraktif. Diiring alat musik bambu, seperti seruling, therotok, gong, tempal, kentongan pethit, mereka membawakan berbagai lagu dengan syair Islami dalam bahasa daerah setempat. Ada yang berbahasa Using (suku asli masyarakat setempat), ada Jawa, juga ada Madura. Ditunjang dengan kostum panggung yang tematik, menjadikan penampilan setiap grup terlihat menarik di atas panggung.

"Atraktif sekali. Kostum-kostumnya sangat lokal dan ini menarik," puji Ivonka Knight, salah satu rombongan pelaku wisata yang malam itu hadir menyaksikan festival patrol.

Ivonka mengaku sangat beruntung bisa datang ke Banyuwangi dan bisa melihat langsung pertunjukan musik tradisional ini.

"Saya senang melihat pertunjukan ini. Para pemainnya adalah orang-orang yang kreatif. Mereka bisa mengkolaborasikan musik tradisionalnya dengan tarian yang menarik. Saya menghargai upaya daerah ini yang melestarikan tradisinya," kata Ivonka.

Festival Patrol ini berlangsung meriah. Berlangsung hingga lewat tengah malam, ratusan penonton tetap memadati lokasi acara untuk menyemangati para pemain.

Sekedar diketahui, Banyuwangi tengah menerima koordinator Biro Perjalanan Wisata AS Wilayah Midwest Jesse Guerra, yang mengoordinasi pelaku wisata di sejumlah negara bagian seperti Ohio, Michigan, Kansas, Minnesota, Indiana, Wisconsin, Iowa, Missouri, dan Illinois.

Bersama Guerra, juga turut 11 pelaku wisata lainnya dari wilayah Midwest. Mereka tengah menjajaki kerjasama pariwisata dengan pelaku wisata Banyuwangi yang difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri RI.

Penulis: Haorrahman
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved