Kabar Pasuruan
Program Memaksa Mangga Alpukat Panen Lebih Awal Di Pasuruan Gagal, Petani Derita Kerugian
Bulan Mei 2019 mangga di Kabupaten Pasuruan diprediksi bisa dipanen secara perdana dalam program tersebut. Namun, faktanya mangga tidak bisa dipanen.
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Achmad Amru Muiz
SURYAMALANG.COM, PASURUAN - program teknologi pertanian pembungaan awal atau biasa disebut Early Flowering Technology (EFT) mangga klonal 21 atau mangga alpukat yang diterapkan petani mangga di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan mengalami kegagalan.
Bulan Mei 2019 ini mangga di Kabupaten Pasuruan diprediksi bisa dipanen secara perdana dalam program tersebut. Namun, faktanya mangga tidak bisa dipanen, dan banyak petani yang merugi.
Sebenarnya, panen raya mangga itu biasanya di bulan Desember, dan terakhir Desember 2018 lalu. Proses EFT ini memaksa mangga bisa berbuah dengan cepat dalam kurun waktu 4 bulan pasca musim panen raya. Namun, harapan panen itu digagalkan oleh kondisi alam yang berada dalam musim hujan
Salah satu petani mangga asal Oro-oro Ombo Wetan Pasuran, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Riyan mengatakan, harusnya saat ini ia dan petani lain bisa memanen mangga dalam program EFT tersebut. Akan tetapi, mangga alpukat yang jadi andalan petani Rembang tidak bisa didapat saat ini.
"Kondisi mangga rusak akibat hujan, buah mangga yang mulai membesar mengalami pecah dan busuk, lalu rontok karena tekanan air hujan. Jadinya seluruh petani tidak bisa menikmati panen mangga pada bulan Mei ini," kata Riyan.
Gagalnya panen mangga proses EFT ini tentu saja merugikan para petani. Bayangkan saja, untuk melakukan program percepatan buah (EFT), dalam hitungan 200 batang mangga, maka petani harus mengeluarkan dana sekitar Rp. 6 juta.
"Karena panen gagal, otomatis modal tidak balik, terpaksa kita memprogram lagi untuk panen Agustus mendatang, "ujar Ryan.
Program percepatan pembuahan ini memang cukup mampu membuat petani di Kabupaten Pasuruan meraup untung besar. Sebab progam pembuahan yang mampu memaksa pohon berbuah dalam kurun waktu 4 bulan sekali. Selain itu, harga jual mangga juga dipatok tinggi dengan kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu perkilogramnya.
"Jika musim hujan terus terjadi, tentu saja program percepatan pembuahan tak lagi bisa kita harapkan. Satu-satunya harapan kami adalah panen raya yang jatuh pada bulan Desember mendatang. Akan tetapi saat itu keuntungan yang kami dapat tentu tidak maksimal, karena saat panen raya, harga mangga pasti murah, "ungkap Riyan.
Hj Sulia petani mangga lainnya juga mengatakan hal yang sama. Ia mengaku mengalami kerugian. Impian untuk bisa memanen mangga lebih cepat pupus akibat hujan yang berkepanjangan. Padahal, mangga alpukat miliknya sudah dipesan oleh pembeli dari Jakarta, Bandung dan Kota lainnya.
"Ya kami kehilangan kepercayaan dari pembeli. Sudah rugi, kami juga disalahkan. Penyebabnya ya hujan. Saya tidak bisa panen sama sekali. Buahnya sangat jelek dan tidak bagus untuk dijual. Kalau dipaksakan, bisa merusak pasaran mangga alpukat ini sendiri," jelasnya.
Sekadar diketahui, Teknologi EFT ini adalah teknologi yang dilakukan agar petani meraup untung besar. Caranya, pemakaian bertahap penggunaan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dengan bahan aktif paclobutrazol dengan cara budidaya yang baik serta pengendalian hama penyakit. Jika berhasil, petani bisa untung karena setahun bisa panene tiga kali.
Penggunaan teknologi ini memiliki resiko sangat tinggi. Kalau sampai terlalu banyak dalam menggunakannya, maka pertumbuhan bunga atau buah akan tidak maksimal, bahkan bisa menyebabkan pohon mati karena kebanyakan. Memaksa pohon mangga untuk cepat berbuah adalah tantangan sekaligus risiko yang harus dihadapi bagi petani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/petani-buah-mangga-di-pasuruan.jpg)