Selasa, 19 Mei 2026

Cara Mendapat Ampunan Allah Saat Lailatul Qadar

Lailatul qadar (malam penetapan) termasuk momen di Bulan Ramadan yang ditunggu umat Islam untuk mencari ampunan.

Tayang:
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Zainuddin
Surya Malang/ Tribun
Al Quran 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Lailatul qadar (malam penetapan) termasuk momen di Bulan Ramadan yang ditunggu umat Islam untuk mencari ampunan.

Dalam buku Ringkasan Sahih Muslim yang disusun Zaki Al-din 'abd Al-azhim Al-mundziri (hal 352) disebutkan Rasulullah menyampaikan waktu Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir Bulan Ramadan, pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima.

Maksud dari malam kesembilan, ketujuh, dan kelima ini adalah apabila Ramadhan sudah sampai pada 21 malam.

Bagaimana cara mendapat ampunan pada momen Lailatul Qadar?

Dalam Hadist Shahih Bukhari 1768 atau versi Fathul Bari (1901) bab Shaum (puasa) dijelaskan sebagai berikut :

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya’.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut, menjalankan ibadah selama Lailatul Qadar serta puasa Ramadhan dengan hanya mengharapa pahala dari Allah SWT adalah cara untuk mendapat ampunan.

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA), Wasid Mansyur mengatakan cara mencari ampunan juga bisa dengan memperbanyak membaca Al Quran.

“Ramadan terasa semakin mulia disebabkan karena diturunkan al Quran pada Lailatul Qadar.”

“Karenanya, al-Qur'an turun agar menjadi jalan terang Ilahi untuk mengajak setiap individu agar tergerak pada capaian sebagai manusia sejati,” terang Wasid kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (23/5/2019).

Al Quran turun pada Bulan Ramadan bukan sekedar peringatan fisik, tapi peringatan spiritual atau ruhiyyah agar semua umat dapat memetik hikmahnya.

Jika tidak, berarti semangat keberagamaan kita masih banyak terjebak pada hal yang fisik dan ujung-ujungnya berlalu tanpa makna.

“Hikmah Al Quran turun pada di Bulan Ramadan di antaranya agar kita terus memperkuat koneksi ruhiyyah melalui al Quran.”

“Laksana jaringan internet, ketika koneksi jaringan itu lancar dan meyakinkan, maka secara otomatis apa yang kita inginkan akan mudah diperoleh.”

“Begitu juga koneksi ruhiyyah dengan al Quran menuju pencapaian sejati kepada Allah SWT,” terangnya.

Memperkuat koneksi melalui Al Quran adalah dengan memperbanyak membaca Al Quran.

Banyak membaca Al Quran menandakan Anda mencintai Allah sebab Al Quran adalah kalamnya.

Siapa saja yang membaca akan dijamin memiliki keistimewaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Imam Nawawi dalam bukunya Al Tibyan fi Adab Hamalah Al Quran menyebutkan bahwa Al Quran adalah bacaan terbaik yang mengalahkan kalimat tayyibah lain, seperti tasbih atau tahlil.

Cukup beralasan bila Imam Syafi'i mampu menghatamkan Al Quran selama Ramadan sebanyak enam puluh kali.

Maka, memperbanyak membaca al-Qur'an sinyal kita dipastikan semakin kencang sebagai bukti penghambaan pada Allah.

Akibatnya, akan  mengantarkan menjadi individu yang ikhlas dalam aktivitas keseharian, termasuk dalam beribadah.

Kedua, memahami dan mendalami al-Qur-an. Langkah ini penting untuk memperkuat sinyal sebab Al Quran bukan saja sebagai kitab bacaan, tapi sekaligus kitab suci untuk memandu jalan hidup manusia agar tetap pada reel yang diridhoi Allah SWT.

Bagaimana orang bisa berakhlak seperti Al Quran, jika tidak memahaminya.

Untuk itu memahami kandungannya sangat penting dengan belajar tanpa henti.

Pastinya, belajar kepada para ahlinya, bukan sekedar pada terjemahan.

Salah langka memahami akan berakibat fatal sebab akan mengganggu sinyal dengan Allah, yang mana nilai-nilai Qurani sebagai kalamNya bermuara pada upaya menciptakan kerahmatan.

Contoh yang paling nyata adalah tindakan menghalalkan segala cara dengan menebar teror atas nama Islam yang dilakukan oleh kelompok radikal.

Mereka memaknai Al Quran sepotong-sepotong sesuai dengan nafsunya.

Padahal ayat-ayat dalam al-Qur'an memiliki hubungan yang saling menyempurnakan sehingga tidak bisa memahami yang satu, mengabaikan ayat yang lain.

Prinsip menjaga maqasid al-Qur'an atau tujuan utama ia diturinkan menjadi sangat penting agar sinyal kita tidak putus akibat prilaku kita makin jauh dari rahmat Allah sebab dengan mudah masih suka menyakiti orang lain sambil membawa ayat Al Quran sebagai legitimasi atau pembenar dalam bertindak.

“Momentum Nuzulul Quran, semoga menjadi jalan kita untuk menjaga sinyal ruhiyyah kehidupan secara konsisten sehingga kita dapat berhati-hati dalam melewati tahapan kehidupan, baik hidup bersama manusia atau alam ini. Lebih-lebih berhubungan dengan Allah,” terangnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved