Kabar Tulungagung

Edet, Gilingan Padi keliling Yang Berubah Jadi Kendaraan Angkutan Ilegal Di Tulungagung

Edet adalah kendaraan rakitan warga, layaknya sebuah truk kecil untuk mengangkut barang. Edet muncul sekitar akhir 90-an.

Edet, Gilingan Padi keliling Yang Berubah Jadi Kendaraan Angkutan Ilegal Di Tulungagung
Ist
Edet yang menabrak tiga warga Desa Sidem, Kecamatan Gondang hingga meninggal dunia. Edet merupakan kendaraan ilegal hasil kreatifitas warga di Tulungagung 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Tiga orang warga Desa Sidem, Kecamatan Gondang meninggal dunia, Selasa (28/5/2019) sore setelah terlindas edet atau gerobak modifikasi yang sudah dilengkapi dengan mesin.

Ketiga korban adalag ibu dan anak Kristin Puspa Lingga (27) dan Titis (6) serta keponakannya, Vania (6).

Edet adalah kendaraan rakitan warga, layaknya sebuah truk kecil untuk mengangkut barang. Edet muncul sekitar akhir 90-an. Saat itu muncul inovasi huller atau mesin penggilingan padi keliling.

Waktu itu tempat penggilingan padi di Tulungagung berupa bangunan yang dilengkapi sejumlah mesin penggiling. Warga yang akan menggilingkan padinya harus datang ke tempat ini.

Muncul ide membuat huller keliling, untuk memudahkan. “Jadi ide awalnya agar warga tidak susah-susah bawah gabah ke penggilingan. Kami yang datang membawa mesin penggilingnya,” ujar JW (34), seorang pemilik Edet asal Boyolangu.

Huller keliling ini dibangun dari rangka sebuah mobil. Gardan dan setir dipertahankan apa adanya. Hanya di bagian mesin yang diganti dengan mesin diesel silinder tunggal, namun bervolume besar. Dari suara mesin diesel yang berbunyi, “det… det… det,” akhirnya warga dengan mudah menyebutnya edet.

Munculnya huller keliling atau edet ini membuat usaha penggilingan padi mengalami kemunduran. Bahkan mayoritas harus tutup karena tidak mampu bersaing dengan huller keliling.

Jika pun ada yang bertahan, biasanya milik pedagang padi yang dioperasikan untuk keperluan pribadi. Sudah tidak ada lagi petani yang membawa gabah ke tempat penggilingan padi.

Namun dalam perkembangan, edet kembali berevolusi. Dari sekedar kendaraan pengangkut mesin penggilingan padi, ada yang mengubah menjadi kendaraan angkut.

“Idenya sebenarnya sama, waktu itu untuk angkutan barang warga biasa pakai gerobak dorong. Terus terpikir bagaimana kalau dipasang mesin,” lanjut JW.

Edet untuk penggilingan padi maupun angkutan barang prinsipnya sama. Jika penggilingan padi, di bagian belakang dipasang mesin penggiling.

Sedangkan untuk angkutan barang, bagian belakang diganti dengan bak kayu.  Edet pengangkut barang ini kemudian menjelma menjadi angkutan alternatif warga.

Kendaraan modifikasi ini banyak ditemui di pedesaan, khususnya di tempat yang akses jalannya kurang memadai. Padahal keberadaan kendaraan ini adalah ilegal.

“Bahkan sekarang edet sudah layaknya angkutan umum. Menawarkan jasa angkut dengan upah,” ungkap JW. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved